Tekankan Stop Nikah Dini Upaya Atasi Stunting

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Wonosobo – Kakankemenag Kab. Wonosobo, Panut, menekankan untuk tidak menikah sebelum usia cukup sebagai salah satu upaya dalam mengatasi persoalan stunting pada anak, “Pastikan tidak menikah sebelum usia cukup yaitu minimal 19 tahun sesuai undang-undang. Jika menikah sebelum usianya secara medis dikatakan kesehatan reproduksi belum siap,” jelas Panut.

Hal tersebut ia sampaikan dalam materinya saat mengisi acara percepatan penurunan angka stunting pada KUA Revitalisasi Kecamatan Kejajar yang digelar di Dewani Resto, Kamis, (22/6) oleh seksi Bimas Islam Kankemenag Kab. Wonosobo.

Selain menekankan tentang usia matang untuk menikah, ia juga berharap agar tidak ada kejadian-kejadian tentang permohonan rekomendasi nikah sebelum usia 19 tahun, melihat kasus permohonan rekomendasi di Kabupaten Wonosobo masih cukup tinggi.

“Kesiapan fisik secara medis, selain itu menikah juga persoalan kesiapan mental sosial mental agama, dan finansial juga. Pastikan betul-betul siap semuanya baru putuskan untuk menikah,” tandasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan tentang langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting pada anak. Stunting berkaitan dengan pemenuhan gizi di 1000 hari pertama Kehidupan anak, dimulai dari dalam kandungan Ibu dan anak berusia 2 tahun.

“Harus bisa membedakan pendek Genetik dengan Stunting. Harus dipahami apa penyebab stunting. Ada lima pintu menuju stunting yaitu yang pertama saat dalam kandungan atau saat hamil, bagaimana kondisi ibu saat hamil, asupan yang dimakan ibu, ibu mengalami anemia tidak, kurang energi kronik dan lainnya. Kedua yaitu saat kelahiran, inisiasi menyusui dini (IMD) yang tidak dijalankan, ibu tidak tahu cara pelekatan menyusui yang benar dan lainnya,” tandasnya.

Tiga pintu lainnya ia jelaskan yaitu gagalnya pemberian ASI ekslusif hingga anak berusia 6 bulan dilanjutkan hingga usia 2 tahun ditambah dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI), selanjutnya pintu ke empat yaitu pemberian MPASI yang tidak tepat secara kuantitas sesuai usia dan kualitas berdasarkan bahan makanan yang digunakan, dan pintu kelima yaitu gangguan kesehatan yang diabaikan.

“Disebutkan 1 butir telur dalam satu hari ampuh mencegah stunting. Perhatikan bahan makanan yang digunakan saat MPASI, jangan lewatkan protein hewani seperti telur, daging atau ikan, karena saat MPASI protein Hewani sangat dibutuhkan. Tambahkan juga lemak baik dari santan, mentega atau lainnya. Perhatikan kuantitasnya juga berdasarkan usia. Paling penting yaitu screening kesehatan, jangan sampai anak terkena TB atau Anemia karena ini akan mengganggu pertumbuhan anak,” tandasnya.

Acara tersebut diikuti oleh 56 orang terdiri dari remaja usia nikah, calon pengantin, ibu hamil, kader PKK dan ibu yang memiliki anak balita. Dalam satu hari pelaksanaan acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB, peserta dibekali empat materi soal stunting dengan narasumber yang berbeda, yaitu dari Kankemenag Kab. Wonosobo oleh Kakankemenag Kab. Wonosobo dengan materinya tentang persiapan pernikahan dan membangun keluarga, dari Kantor Kecamatan Kalikajar oleh Camat Subagyo Agus Mulyono dengan materinya tentang Peningkatan kualitas SDM melalui pencegahan stunting.

Selanjutnya narasumber ketiga yaitu dari PLKB Kecamatan Kejajar oleh R Ndaru Widya Anata Hadi dengan materinya tentang Kesehatan Pranikah, optimalisasi 1000 HPL dalam pencegahan stunting dan praktek pengisian Elsimil bagi catin. Pemateri terakhir dari Puskesmas Kaliajar oleh Siti Nurlaela dengan materi penerapan isi piringku dan germas dalam pencegahan stunting.

Dengan digelarnya acara tersebut diharapkan, Kankemenag Kab. Wonosobo turut berkontribusi aktif mendukung program pemerintah mengatasi masalah stunting.(Ps-ws/Sua)