Peduli Banjir, OSIS MAN2 Kota Semarang Berikan Donasi

Semarng – Bencana banjir akibat hujan deras dan meluapnya sejumlah sungai yang melanda sejumlah daerah termasuk Kota Semarang, menggerakkan hati peserta didik MAN 2 Kota Semarang yang berjumlah seribu lebih dan Organisasi Siswa Intra Sekolah, OSIS Madrasah untuk memberikan bantuan terhadap para korban bencana banjir di daerah Kecamatan Genuk, khususnya di desa Trimulyo. Dimotori oleh pengurus OSIS dan organisasi di bawahnya seperti  PMR, Pramuka, KMM, mengumpulkan donasi yang di kumpulkan dari guru, tenaga kependidikan, siswa dengan cara di umumkan lewat grub kelas, media sosial dan mereka dengan sukarela menyisihkan uang jajan mereka untuk para korban bencana banjir. Setelah uang dan material terkumpul, melalui pengurus OSIS mereka menyerahkan langsung bantuan  ke masyarakat yang terkena dampak banjir. 

Dalam pengabdian pada masyarakat serta untuk meringankan beban pada yang terdampak musibah banjir, olehkarenanya para  siswa tergerak untuk memngumpulkan donatur untuk diserahkan pada penduduk yang mengalami musibah banjir.

Wakil Kepala Urusan Kesiswaan, “menjelaskan Bantuan di ujudkan dalam bentuk paket yang berisi indomie, beras, telur, roti, pakaian pantas pakai. Laila Najma Rahmatika, Bendahara OSIS sekaligus pengurus Palang Merah Remaja (PMR) madrasah merasa sedih dan kasihan setelah melihat langsung masyarakat yang terkena dampak banjir. Dengan melihat langsung korban banjir, akan menumbuhkan empati pada masyarakat yang di landa kesusahan. Nur Robi Zaenal, guru Bahasa Indonesia madrasah yang rumahnya di desa Trimulyo yang terkena banjir setinggi satu meter lebih hanya mengaku pasrah, selama lima hari tidak bisa beraktifitas apa-apa di tambah  listrikpun mati dan ketika akan chas batu  HP yang habis,  satu-satunya jalan dengan memanfaatka aliran listrik dari sepeda motor yang di hidupkan.” jelas Irfai

Kepala MAN 2 Kota Semaraang, Syaefudin mengucapkan rasa terima kasih kepada pengurus OSIS dan seluruh siswa yang telah mengumpulkan uang donasi kepada para korban bencana banjir. Semua itu adalah wujud rasa empati  dan merupakan implementasi dari ilmu yang didapat di madrasah. (Ahmad Riyatno-bd)