Pembinaan Moderasi Beragama Kepada Penyuluh Agama Islam Se Kota Semarang

Semarang – Penyuluh Agama adalah sosok garda terdepan Kementerian Agama yang tentunya tidak bisa lepas bertemu dengan masyarakat. Dikarena posisi tersebut peran penyuluh untuk menyemai program-program kementrian sangat strategis, diantarajta Program Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan, tutur H. Labib, selaku Kasi Bimas dalam pembinaan penyuluh pada Senin (12/4) di aula Kantor Kemenag Kota Semarang.

Kegiatan yang dikuti oleh 142 penyuluh, baik yang PNS maupun Non PNS ini dibagi menjadi 2 angkatan guna menghindari kerumunan yang besar dan menerapkan protokol kesehatan dengan jargonnya 5M. 
H. Muhdi, selaku Kepala Kantor memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan ini dengan memberikan sejumlah penekanan.

Pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan sebagai tema yang dipilih untuk membendung paham-paham radikal yang ternyata masih subur di Indonesia. Sebagai bukti kejadian bom bunuh diri di Makasar dan penyerangan di Mabes Polri Jakarta.

Selanjutnya H. Muhdi  “Menyampaikan pentingnya moderasi dalam praktek penyuluhan dan dakwah kita, tidak boleh memaksa atau menjustifikasi pemahaman dan praktek keberagaman seseorang atau kelompok, makanya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kemanusiaan dalam penyuluhan dan dakwah.” ucap muhdi

Dr Tedi Kholiludin yang ditunjuk sebagai narasumber tunggal pada 2 angkatan mengawali sesi mencoba melatih penyuluh agama untuk memetakan konflik mana yang jadi akar dan mana cabang dari suatu masalah, sehingga bisa memberikan resep dan solusi yang pas.
Oleh karenanya pemahaman moderasi menjadi sangat penting.

“Moderasi  adalah memahami dan mengamalkan agama secara adil dan seimbang sehingga tidak berfikir dan bertindak secara ekstrim.”

“Sebab kalau beragama dengan tidak proporsional dan adil maka akan menjadi ekstrim kanan dan jika ada ekstrim kanan pastilah  akan memunculkan ekstrim kiri. Fakta ini terjadi dan bisa dibaca datanya didunia arab cukup subur paham ateisme sebagai  antitesis dari paham ektrimisme,” ungkapnya. (sy/bd)<!–/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_210413_102747_828.sdocx–>