Maknai Hari Guru Sebagai Muhasabah Diri

Banjarnegara – 25 November kita kenal sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Tahun ini MIMAU (MI Maarif Unggulan) Al Falah Joyokusumo memperingatinya dengan banyak Muhasabah Diri. Berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, karena masih masa pandemi pula kita tidak memperingatinya dengan kemeriahan acara. Namun yang pasti selalu ada kado spesial, sebagai bentuk perhatian dan bukti syukur kepada Allah.

Kamis (25/11), seperti biasa pagi – pagi Kepala Madrasah, Wahyul mengawali aktivitas bersama guru di ruang guru untuk memberikan briefing pukul 07.00 dan khusus di HGN ini, di meja masing – masing guru sudah tersedia bingkisan kado tanda kasih untuk seluruh guru dan secarik kertas berupa ucapan dan harapan.

“Semoga apa yang kita berikan kepada anak – anak didik kita semuanya membawa kemanfaatan dan keberkahan dunia dan akhirat. Dan Mudah – mudahan kita semuanya tetap sabar, ikhlas menghadapi anak – anak didik kita. Percayalah apa yang kita berikan setulus hati pasti akan sampai ke hati pula,” kata Wahyul, Kepala Madrasah

Di ruang guru itu, Wahyul mengajak pendidik dan tenaga kependidikan untuk memaknai sejatinya guru, dan ini merupakan muhasabah diri. Disini, Wahyul mengingatkan kepada guru – guru akan salah satu nasihat sang Kyai, beliau adalah KH. Maimun Zubair bahwa ketika kita menjadi guru tidak perlu punya niat bikin pintar, karena sejatinya yang mencerdaskan Allah. Yang terpenting adalah selalu mendoakan agar murid – murid kita selalu mendapatkan hidayah.

Nasihat ini begitu memiliki arti mendalam, dan sebagai pondasi utama bahwa guru dalam mengajar harus ikhlas dan sabar. Menjadi hal penting pula guru itu harus memiliki etos kerja Islami. Harus benar – benar bersyukur menjadi seorang pendidik karena bisa jadi satu atau beberapa diantara mereka yang kita ajarkan ilmu – ilmu agama akan menarik tangan kita ke SyurgaNYA Allah SWT.

“Saya sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar MI Joyokusumo ini, selain kerjasama dan kekompakannya yang sangat bagus juga semua guru sering berbagi ilmu dan pengalaman mengajar di kelasnya masing – masing. Sebagai wujud syukur saya ditakdirkan disini, saya berusaha untuk selalu loyal, mendisiplinkan diri dan mengikuti aturan yang ada di madrasah ini” tutur Tismi guru Kelas VI

Mengakhiri muhasabah pagi hari di hari Guru yang penuh makna ini, Wahyul menutup dengan doa bersama, kemudian semua guru menuju ke Masjid untuk mendampingi rutinitas keagamaan pagi, sebelum memulai pelajaran. (wk/ak/rf)