Penyuluh Agama Mandiraja Adakan Pembinaan Anak Punk

Banjarnegara – Sejumlah anak punk dan anak  jalanan yang biasa mangkal di sekitar  lampu lalu lintas perempatan terminal Mandiraja mendapat pembinaan dari Penyuluh Agama Islam Fungsional, Yani Itsnawati dan Penyuluh Non PNS, Imam Khambali, di serambi Masjid At-Taqwa Mandiraja pada Hari Selasa, tanggal 25 Januari 2022.

Selama ini, komunitas anak punk dan anak  jalanan kerap dipandang remeh dan sebelah mata oleh masyarakat. Kehidupan mereka cenderung bebas dan dianggap liar,  seolah-olah melekat dan menjadi identitas mereka. Keseharian mereka yang lekat dengan narkoba, tindak kriminal dan kehidupan bebas di jalan seringkali membuat hati mereka kosong dengan keimanan.

“Untuk itulah kami berusaha hadir dihadapan mereka, kami ajak ngobrol santai seraya menyisipkan pesan moral kepada mereka,” ucap Yani.

Dalam perbincangan dengan anak-anak punk dan anak  jalanan, Yani menggali informasi kenapa mereka keluar rumah. Ada beberapa jawaban dari mereka  yaitu ada permasalahan dengan keluarga, orang tua bercerai, orang tua meninggal, orang tua sibuk, orang tua bekerja keluar negeri, ingin bebas, tidak harmonis dengan keluarga, tidak nyaman berkumpul dengan keluarga lebih nyaman dengan teman –teman yang di jalanan, kurang perhatian dari orang tua, merasa tidak disayang orang tua dan keluarga.

Yani dan Imam merencanakan beberapa langkah agar bisa merangkul mereka yang tersisih dari masyarakat. Salah satu pendekatan yang efektif adalah pendekatan tasawuf dengan menitikberatkan pemahaman tauhid kepada Allah swt, yang akan membawa perubahan besar bagi anak punk dan jalanan untuk memperbaiki diri menjauhi perbuatan maksiat. Dan yang tak kalah penting adalah pendekatan secara persuasif dengan menyentuh hatinya.

‘’Ini tentu bukan perkara yang mudah namun bukan berarti tidak mungkin, semua membutuhkan proses, kami berharap dapat melaksakan pembinaan ini dengan istikamah,” ungkap Imam

Irfan Sulastono, Kepala KUA Kecamatan Mandiraja mendorong terhadap pembinaan anak punk dan jalanan karena anak punk dan jalanan merupakan ladang dakwah yang belum banyak tergarap.

“Pembinaan terhadap anak punk dan anak jalanan perlu bersinergi dengan instansi lain ataupun organisasi masyarakat lainnya  sehingga hasilnya akan lebih maksimal,” pungkasnya (yi/ak/rf)