Tidak Puas Peringkat Tiga Prestasi Tingkat Jawa Tengah, MAN 2 Banjarnegara Adakan Workshop Riset

Banjarnegara – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Banjarnegara mengadakan workshop riset untuk guru dan peserta didik untuk menambah jumlah prestasi dan menempatkan diri pada peringkat satu tingkat nasional pada Kamis (20/1). Acara yang mengusung tema “Semangat Meneliti Untuk Madrasah Riset Berprestasi” ini diperuntukkan bagi guru dan peserta didik MAN 2 Banjarnegara yang tergabung dalam tim prestasi, riset, dan robotik.

Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas Kepala Kantor Kementerian Agama (Plt Kakankemenag) Kabupaten Banjarnegara, Sumarna menyampaikan keyakinannya terhadap kemajuan prestasi MAN 2 Banjarnegara. “Saya yakin dari sekian banyak prestasi yang dimiliki dan semangat guru serta para siswa, tidak mustahil madrasah ini akan menjadi peringkat satu tingkat nasional,” ungkapnya.

Plt Kakankemenag juga mendukung terlaksananya workshop riset di MAN 2 Banjarnegara. “Mudah-mudahan workhshop ini mampu menumbuhkan semangat guru dan para siswa. Anak-anak yang berada di kelas riset dan robotik adalah anak-anak pilihan yang hebat dan luar biasa. Mereka harus diarahkan untuk kreatif, inovatif, komunikatif dan kolaboratif. Inilah tujuan pembelajaran abad 21,” imbuhnya.

Ridlo Pramono, selaku Kepala Madrasah memberikan apresiasi kepada panitia workshop dan akan selalu mendukung serta merespon dengan cepat kegiatan positif yang ada di MAN 2 Banjarnegara, terlebih kegiatan untuk meningkatkan prestasi. Kepala yang baru satu tahun memimpin ini mengaku tidak puas jika madrasah yang dipimpinnya berada di peringkat tiga tingkat Jawa Tengah dalam bidang prestasi. “MAN 2 Banjarnegara prestasinya peringkat tiga tingkat Jawa Tengah, mohon doanya besok peringkat satu tingkat nasional,” ungkapnya saat memberikan sambutan.

Workshop yang berlangsung selama tiga hari dengan pembicara Muhammad Miftakhul Falah, Widyaiswara Balai Diklat Semarang dan Rifqi Aulia Rahman, Dosen Universitas Sains Al-Quran, Wonosobo bukan tanpa target. Targetnya adalah guru dapat membuat outline penelitian dan peserta didik mampu menyusun proposal penelitian.

Proposal penelitian hasil workshop akan berlanjut dikonsultasikan kepada narasumber selama kurun waktu satu bulan. Harapannya dapat menjadi proposal penelitian yang berkualitas dan mampu bersaing dalam ajang lomba seperti Madrasah Young Researchers Super Camp (Myres), Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KoPSI), National Young Inventors Award (NYIA), dan ajang lomba penelitian lainnya. “Apabila kita mampu mengantarkan anak berprestasi, maka itu adalah investasi kebaikan,” ungkap Muhammad Miftakhul Falah, selaku narasumber seraya memotivasi. (fn/ak/rf)