Wujudkan ZI Butuh Komitmen Bersama

Semarang–Dalam rangka menghadapi penilaian pendahuluan ZI oleh Tim Ortala Kemenag RI, Kankemenag Kota Semarang laksanakan studi tiru pelaksanaan ZI pada Kankemenag Kota Salatiga, Selasa (18/1). Kegiatan ini diikuti oleh Kepala, Kasubbag TU dan Tim ZI Kankemenag Kota Semarang dimana masing-masing pokja mewakilkan ketua dan sekretarisnya. Berkesempatan hadir Kasubbag TU Kankemenag Kota Salatiga, Soleh Mubin menyampaikan paparannya terkait proses pembangunan ZI sampai dengan penilaian ZI oleh Menpan RB di Kankemenag Kota Salatiga.

“ZI sebetulnya bukanlah hal yang sulit, kuncinya adalah komitmen/kekompakan bersama dari semua unsur. Tinggalkan ego. Menuju ZI butuh dukungan sarpras dan hal ini memang harus didukung oleh anggaran DIPA dari seluruh satker,” tutur Mubin.

Mubin menambahkan bahwa guna meraih ZI butuh kerja keras. “Menuju ZI butuh perjuangan, tidak hanya materi tetapi juga waktu, pikiran dan tenaga. Tapi yakinlah bahwa perjuangan itu akan berbuah manis,” imbuh Mubin.

Senada dengan yang disampaikan Mubin, Kankemenag Kota Semarang, Mukhlis Abdillah sampaikan kepada timnya untuk selalu menjaga komitmen dan integritas guna menuju ZI. “Kami senang mendengarkan cerita perjuangan Kemenag Kota Salatiga hingga berhasil memperoleh predikat ZI WBK, ini sangat menginspirasi Kami. Dan Kami berkomitmen akan realisasikan hal-hal apa saja yang harus segera kami tindaklanjuti guna menyempurnakan upaya kami dalam menuju ZI WBK,” tutur Mukhlis.

Terkait inovasi, Mubin sampaikan bahwa Kemenag Salatiga punya beberapa inovasi, salah satunya adalah aplikasi Simsalabim, yaitu layanan satu pintu Kankemenag Kota Salatiga untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. “Simsalabim merupakan kepanjangan dari Sistem Informasi Manajemen Salatiga Bersih Inovatif Melayani,” jelas Mubin.

Anggun Taruna Putra selaku admin ZI sekaligus juga agen perubahan pada Kankemenag Kota Salatiga, ikut memberikan penjelasan bahwa inovasi yang ditonjolkan adalah inovasi yang menyentuh langsung kepada masyarakat. “Inovasi terpenting adalah perbaikan layanan yang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat,” terang Anggun.

Anggun juga menambahkan tahapan-tahapan dalam penilaian ZI. “Pertama penilaian pendahuluan oleh Tim Ortala Kemenag RI, kemudian penilaian internal oleh Irjen (TPI) dan terakhir penilaian oleh MenpanRB (TPN),” ucap Anggun.
Anggun juga sampaikan bagaimana tip dalam menghadapi penilaian ZI pada masing-masing tahapan.
Tak lupa Mubin mengingatkan pentingnya penyampaian paparan pada saat penilaian ZI. “Yakinkan tim penilai bahwa Kita sudah melalukan perubahan guna perbaikan layanan, serta inovasi yang Kita tampilkan merupakan hasil penggalian potensi dan kondisi dari masyarakat Kita. Berikan kesan pertama yang baik, yang mengenang bagi tim penilai,” jelas Mubin.

Melalui kegiatan ini Mukhlis mengajak seluruh timnya untuk optimis dan segera melakukan tindak lanjut. “Kalau Kemenag Kota Salatiga dari kata simsalabim yang diartikan suatu tindakan yang mampu merubah menjadi keajaiban, mampu merubah cerita dongeng menjadi kenyataan, maka Kitapun pasti mampu, karena Kita punya potensi untuk bisa lolos dalam penilaian ZI WBK, tinggal komitmen Kita bersama untuk mewujudkan mimpi Kita,” pungkas Muskhlis.–NBA/bd