7 Kunci Kebahagiaan Menurut Al Qur’an

Semarang—Hidup bahagia tidak hanya merupakan dambaan setiap individu, tetapi juga oleh masyarakat, bangsa dan negara. Demikian disampaikan KH. Muchlis M Hanafi pada pengajian bulanan yang digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag RI dimana sebagai petugas adalah DWP Unsur Pelaksana (UP) Sekretariat Jenderal (Sekjen) Kemenag RI, yang dilaksanakan secara daring baik melalui zoom meeting maupun live streaming pada Kamis (3/2).

Kegiatan ini diikuti oleh DWP Kemenag se-Indonesia baik dari Unsur Pelaksana, PTKN, Biro PTKN, Kanwil Kemenag Provinsi, Kankemenag Kabupaten/Kota, UPT Asrama Haji serta Balai Diklat Keagamaan dan Balai Litbang Agama se-Indonesia.

Adapun tema yang diangkat pada pengajian bulanan perdana DWP Kemenag RI adalah “Resep Bahagia Dunia dan Akhirat”.

Kegiatan dibuka oleh Penasehat DWP Kemenag RI, Hj. Eny Retno Yaqut Cholil Qoumas. Dalam sambutannya Eny menyampaikan melalui tema yang dipilih tersebut, DWP Kemenag RI mengajak kepada anggotanya untuk tetap berfikir positif dalam menghadapi kondisi pandemi Covid-19 berdampak pada kehidupan baik sosial maupun ekonomi.

KH. Muchlis M Hanafi yang didapuk sebagai nara sumber pada pengajian perdana DWP Kemenag RI menjelaskan kepada peserta tentang apa saja parameter kebahagiaan, dimana kebahagiaan itu berada dan bagaimana cara mendapatkannya.

Dijelaskan olehnya bahwa harta bukanlah jaminan kebahagiaan seseorang, bahkan ada beberapa kasus dimana justru harta yang berlimpah malah menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan. Menurutnya kemajuan di bidang teknologi dan peradaban secara materi pun juga tidak menjamin rasa bahagia, akan tetapi dengan harta, kemajuan teknologi dan peradaban serta kenikmatan dunia lainnya bisa membuat seseorang berbuat lebih banyak demi kebaikan dan kebahagiaan, bukan hanya untuk dirinya sendiri bahkan juga bagi orang lain.

“Meskipun kehidupan dunia hanya bersifat sementara, tetapi manusia diwajibkan untuk tetap berusaha dengan kerja keras untuk mendapatkannya, karena tidak dipungkiri bahwa terpenuhinya kebutuhan kehidupan dunia akan dapat memberikan kebahagiaan meskipun tidak selalu. Berkaca dari surah Quraisy ada empat rahasia kebahagiaan yaitu usaha, bersandar kepada Allah dalam segala kondisi, terpenuhinya kebutuhan jasmani dan kenyamanan secara batin. Al Qur’an menggambarkan kebahagiaan di dunia melalui beberapa istilah di antaranya kehidupan yang baik, dada yang lapang karena dipenuhi cahaya iman-Islam, hati yang tenang dengan selalu berzikir kepada Allah serta ketenangan,” tutur Muchlis.

Muchlis menambahkan, cara memperoleh kebahagiaan adalah keimanan yang berkualitas, dekat dengan Allah, menerima dengan ikhlas segala ketetapan Allah. “Bahagia itu ada di dalam diri Kita, jadi kebahagiaan itu harus Kita yang menciptakannya. Harta, ilmu, kesehatan dan lainnya tidak bisa diabaikan sebagai parameter kebahagiaan, tapi itu bukan satu-satunya, karena dalam Al Qur’an disebutkan bahwa harta, kekayaan dan kemewahan dunia adalah hiasan semata. Gunakanlah harta dan kekayaan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagi dengan sesama, karena dengan kebahagiaan sesama akan menimbulkan rasa bahagia untuk diri Kita. Ciptakan rasa bahagia dengan memaksimalkan potensi diri. Kebahagiaan dalam Islam tidak bersifat individu tetapi juga harus bisa dirasakan oleh orang lain,” imbuh Muchlis.

Menurut Muchlis, kunci bahagia menurut  Al Qur’an adalah iman kepada Allah, menerima atas ketetapan Allah, menjaga komitmen kepada Allah, selalu bertilawah, husnuzhan dan optimis disetiap kondisi, memaafkan segala kesalahan orang lain, serta selalu berdoa memohon kebahagiaan kepada Allah.

“Ingatlah bahwa kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan akhirat. Dunia hanya sebagai perantara supaya kelak Kita dapat merasakan kebahagiaan yang kekal. Oleh karenanya jadikan parameter kebahagiaan di dunia sebagai sarana untuk memperoleh kebahagiaan akhirat dengan cara memanfaatkannya untuk berbagi dengan sesama,” pungkas Muchlis.(Hanum/NBA/bd)