DWP Kemenag Kota Semarang, GEMARIKAN Dapat Mencegah Stunting

Semarang, Selasa (22/3/2022) Sriyati Kepala Raudhatul Athfal (RA) Perwanida 2 Banyumanik Semarang, mewakili Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama (Kemenag) Kota Semarang, mengikuti Sosialisasi Gemar Makan Ikan yang diselenggarakan oleh DWP Kota Semarang di Hotel Plaza.

Bertindak selaku nara sumber pada kegiatan tersebut adalah Sri Endah Wahyuningsih dari Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Semarang, dan Yuli Indiastuti dari Dinas Perikanan Kota Semarang.

Kedua nara sumber menjelaskan tujuan dari kegiatan sosialisasi ini adalah guna meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ikan bagi kesehatan tubuh dan kecerdasan anak, meningkatkan pengkonsumsian ikan secara rutin karena masyarakat memiliki daya beli yang cukup untuk mengkonsumsinya dan melimpahnya produksi ikan baik air tawar maupun air laut, serta meningkatkan wawasan masyarakat tentang inovasi ikan dengan aneka ragam bahan pangan.

“Mengkonsumsi ikan, dapat mencegah stunting, yaitu kondisi kurang gizi pada anak-anak. Untuk itu, mari kita galakkan gerakan gemar makan ikan, selain mudah didapat, ikan juga murah,” tutur Sri Endah Wahyuningsih.

Ia juga mengajak kepada peserta untuk ikut konsen dalam masalah kurang gizi, karena menurutnya hal ini dapat mengakibatkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki sehingga mengakibatkan anak yang kurang berprestasi dan di masa dewasa menjadi generasi yang berpenghasilan rendah karena keterbatasan pilihan profesi akibat rendahnya kemampuan berpikir.

“Kurang gizi bisa menyebabkan kemiskinan,” tandasnya.

Lebih lanjut, Sri menuturkan kandungan gizi dari ikan, diantaranya protein, vitamin A, B6, B12 dan Omega-3, yang kesemuanya diperlukan oleh tubuh utamanya pada anak-anak dalam proses tumbuh kembangnya.

Selain itu, ia juga memberikan aneka makanan atau lauk berbahan dasar ikan.

“Sering kita katakan bahwa anak-anak tidak suka mengkonsumi ikan karena alasan banyak durinya atau karena rasanya yang tidak seenak ayam atau daging, padahal sebetulnya bagaimana pintar-pintarnya kita untuk mengolah ikan tersebut menjadi lauk atau kudapan yang digemari oleh anak-anak. Sebagai contoh, ikan bandeng yang diolah menjadi bandeng duri lunak atau otak-otak bandeng, sehingga memudahkan anak-anak dalam mengkonsumsinya. Ikan pun bisa diolah menjadi sempolan, kaki naga, abon, ekado, nugget, amplang, tahu bakso, dan masih banyak lagi olahan ikan lainnya,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, Yuli Indiastuti memberikan beberapa ilustrasi untuk membedakan ikan segar dan ikan berformalin, serta bagaimana cara mempertahankan mutu ikan agar tetap baik untuk dikonsumsi.

Sriyati menuturkan beberapa manfaat yang diperolehnya dari mengikuti kegiatan ini.

“Kami menjadi lebih faham bahwa ikan mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan dan mengandung zat gizi lengkap untuk daya tahan tubuh, sehingga diperlukan Gerakan Masyarakan Makan Ikan (GEMARIKAN) dengan optimalisasi produksi olahan ikan dengan memanfaatkan seluruh bagian ikan dengan berbagai inovasi (zero waste) yang digemari oleh masyarakat utamanya anak-anak guna mencegah terjadinya stunting,” ujar Sriyati.

Kegiatan ini disponsori pula oleh PT. INDOMINA CIPTA AGUNG yang merupakan produsen aneka olahan ikan. Pada kegiatan ini, peserta diajarkan pula bagaimana cara pembuatan bakso dan tomyam.(Sriyati/NBA/bd)