Dua Peserta Didik Metrobara Berhasil Manfaatkan Limbah Kulpi (Kulit Pisang) Untuk Pembuatan Pupuk Organik

Banjarnegara – Dua peserta didik dari MTs Negeri 2 Banjarnegara (Metrobara) yang bernama Alsyiroh Widya Haryani dan Felin Widya Savana dari kelas 7A ( Kelas Riset ) berhasil mencoba memanfaatkan limbah pisang sebagai pupuk buatan yang digunakan untuk menanam tanaman,Rabu, (6/4). 

Dari limbah kulpi (Kulit Pisang) yang dikumpulkan dari sampah-sampah pedagang gorengan dan ibu rumah tangga tersebut, mereka dengan senang hati membawakan sampah kulpi ke madrasah untuk diolah menjadi pupuk organik.

Hal tersebut menjadikan limbah kulit pisang ikut menyumbang salah satu limbah hasil olahan peserta didik di MTs Negeri 2 Banjarnegara kepada para petani di lingkungan peserta didik.

Selama ini, limbah kulit pisang kebanyakan hanya dibuang begitu saja atau digunakan sebagai campuran bahan pakan ternak. Belum pernah ada yang mencoba memanfaatkan kulit pisang sebagai pupuk organik.

Oleh sebab itu, Tim Program Riset MTs Negeri 2 Banjarnegara yang terdiri dari 3 pembina yakni Muhamad Hanis, Ismiana Fitriyanti, dan Endah Wahyuningsih menggembleng 2 peserta didik untuk melakukan riset kulpi (kulit pisang) sebagai pupuk organik.

Kedua peserta didik dan tim riset berinisiatif untuk mencari alternatif pengolahan limbah kulit pisang agar dapat dimanfaatkan kembali, terutama untuk digunakan sebagai pupuk dalam bidang pertanian.

Salah satu pembina riset Ismiana Fitriyanti menuturkan, bahwa ide tersebut muncul ketika mereka melihat banyak limbah kulit pisang yang tidak dimanfaatkan dan hanya terbuang percuma. Ide tersebut kemudian dituangkan dalam proposal untuk pengajuan pendanaan Program Kelas Riset MTs Negeri 2 Banjarnegara yang didanai oleh DIPA dan Komite.

“Nah, akhirnya, kami selaku Pembina tim kelas riset MTs Negeri 2 Banjarnegara berhasil mendapatkan pendanaan dari Madrasah untuk mengembangkan ide-ide kami,” ungkap Ismiana girang, Rabu (6/4).

“Senyawa-senyawa untuk pembuatan pupuk, sebenarnya bisa ditemukan pada banyak buah-buahan. Tapi, penemuan yang paling menarik adalah buah kulit pisang di dalamnya terkandung senyawa kalium, dan fosfor yang dinilai menjadi nutrisi penting yang ada pada pupuk,” katanya.

Uniknya, perhatian 2 peserta didik dan tim riset tidaklah tertuju pada daging buah pisang sebagai bagian yang biasa dikonsumsi, melainkan bagian kulit buahnya.

Senyawa-senyawa bermanfaat itu, terkandung di dalam kulit buah pisang yang selama ini tidak begitu diperhatikan kegunaannya. Dan dari hasil penelitian, terbukti bahwa kulit pisang setelah dicampur dengan senyawa lain seperti Effective Microorganisme 4 (EM4) ( SLP), tetes tebu dapat dimanfaatkan sebagai pupuk mampu yang mempercepat pertumbuhan akar pada tumbuhan

 “Kami berharap hasil penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pupuk buatan sendiri,” tutupnya.  (en/ak/rf)