Menjadi Manusia yang Produktif

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
 *)Tulisan ini disusun sebagai naskah bimbingan penyuluhan yang diambil dari berbagai sumber. Dipresentasikan oleh Azizah Herawati, S.Ag.,M.S.I., Penyuluh Agama Ahli Madya Kecamatan Candimulyo, Kankemenag Kabupaten Magelang pada Kajian Rutin “Mutiara Hikmah” Radio Gemilang 96,8 FM, Kabupaten Magelang pada Kamis, 2 Juni 2022  

Setiap manusia di dunia ini diberi waktu yang sama setiap harinya oleh Allah Allah Swt, masing-masing 24 jam, tak kurang dan tak lebih. Bagi mereka yang aktif dan produktif, rasanya waktu berjalan sangat cepat. Karena waktu sangat berarti bagi mereka. Jangan sampai ada waktu yang hilang sia-sia.

Sebaliknya bagi mereka yang tidak memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti pengangguran, kongkow-kongkow dan sebagainya, waktu tidak mempengaruhi mereka. Mereka menganggap perubahan waktu dari hari ke hari tak ada yang istimewa. Mengalir saja tanpa adanya target.

Padahal Allah Swt mengingatkan pentingnya waktu sampai bersumpah “Demi Waktu”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap detik kita harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Jangan sampai ada yang sia-sia, sehingga kita tergolong dalam kelompok orang-orang yang merugi. Allah menggambarkan pentingnya memanfaatkan waktu dalam firman-Nya yang sudah tidak asing lagi:

“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran”. (QS Al-‘Ashr [103]:1-3)

Surat Al-Ashr merupakan kalam Allah yang berisi pelajaran sangat penting untuk manusia. Sebuah pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia produktif dan sebaliknya jangan menjadi manusia yang gagal.

Wal-‘ashr (Demi waktu). Innal Insaana lafi khusrin. Sesungguhnya setiap manusia itu tambah hari tambah merugi, semakin tua semakin merugi, kecuali orang-orang yang produktif. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang menjadikan bertambahnya umur, bertambah meningkat pula mutu keimanannya dan semakin meningkat kualitas ibadahnya. Setiap waktu semakin meningkat kemampuan dirinya, sehingga kehadirannya di dunia ini menjadi jalan nasehat bagi orang lain, tutur kata dan perilakunya selalu mencerminkan pribadi seorang muslim yang selalu dihiasi dengan kebenaran dan kesabaran.

Al Quran mengajarkan bahwa untuk menjadi manusia yang produktif kita harus mengisi waktu itu hanya dengan empat perkara:

Pertama, meningkatkan mutu keyakinan kita kepada Allah Swt. Iman merupakan rujukan dasar kita dalam melakukan aktivitas, sehingga semakin tinggi tingkat keyakinan kita kepada Allah. Dengan demikian, kita akan semakin teliti terhadap aktivitas yang akan kita lakukan, apakah aktivitas ini dibenarkan Allah atau sebaliknya. Seorang Muslim jika telah memiliki tingkat keyakinan yang tinggi terhadap Allah, maka ia akan selalu menjaga dan menata waktu-waktu yang akan dilaluinya. Karena waktu merupakan amanah yang diberikan Allah Swt kepada manusia untuk diisi dengan berbagai aktivitas yang mengandung manfaat bagi manusia itu sendiri.

Kedua, jangan menunda amal. Sebagai seorang muslim, kita seharusnya selalu merenung mengapa Allah Swt menciptakan kehidupan dan kematian? Jawabannya tidak lain adalah agar kita dapat mengisi kehidupan ini dengan amaliah yang terbaik, sehingga ketika kita menghadap Allah Swt telah memiliki bekal. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS.al-Mulk [67]: 1-2)

Nah, bekal yang akan kita bawa itu tentu berkaitan erat dengan waktu. Ketika kita mampu menata dan menggunakan waktu dengan baik, maka semakin banyak amal yang akan kita bawa menghadap Allah Yang Maha Kuasa. Sebenarnya, sangat banyak amal yang bisa kita jadikan bekal, seperti bekerja, belajar, mengikuti kajian bahkan makan, minum, mandi dan sebagainya selama aktivitas itu kita niatkan karena Allah semata, bukan yang lain. Mari kita hilangkan sifat bersantai-santai. Karena kita tidak tahu kapan umur kita akan berakhir. Bisa saja Allah Swt mencabut nyawa kita ketika terbersit kata-kata “sebentar lagi” dalam hati kita. Sehingga ketika nyawa kita dicabut, ternyata kita belum melaksanakan shalat, misalnya.  Nauzu billahi min zalik.

Ketiga, gemar menasehati dan siap untuk dinasehati. Muslim yang baik adalah yang selalu memperhatikan dirinya dari segala yang dapat merusak amal ibadahnya. Untuk mencapai target ini, seorang muslim harus selalu bertanya kepada orang lain tentang dirinya dan siap menerima kritik yang bisa jadi yang dipaparkan adalah keburukan dirinya. Jarang sekali kita mengetahui perilaku kita yang buruk jika tidak bertanya kepada orang lain, dimulai dari orang-orang terdekat kita seperti adik, orangtua atau sahabat kita. Maka dari itu, manusia yang terbaik adalah manusia yang siap dinasehati dan siap untuk mengubah perilakunya ke arah yang lebih baik.

Nah, bisakah kita menasehati orang lain jika perilaku kita sendiri masih buruk? Sekalipun bisa, hal ini sangat jarang sekali terjadi. Karena orang yang dinasehati akan selalu memperhatikan diri orang yang menasehati. Tidak akan mungkin seorang itu kelihatan indah ketika bercermin kalau cermin yang digunakan tidak bersih. Bagaimana kita bisa menasehati orang lain kalau perilaku kita sendiri masih buruk?

Jika kita selalu mengubah sifat dan perilaku kita ke arah yang baik, maka akan menimbulkan cerminan bagi orang yang ada di sekitar kita. Hal yang demikian otomatis menjadi langkah awal bagi kita untuk bisa menasehati orang lain. Jika kita tidak bisa menasehati dengan lisan paling tidak kita bisa menasehati dengan perbuatan. Cobalah menasehati dengan perbuatan yang kecil-kecil. Ketika kita melihat rumah kotor segera bersihkan, tanpa harus marah-marah. Kita ingin menasehati sahabat kita untuk tidak merokok, jika kita tidak dapat menasehatinya dengan lisan minimal kita sendiri tidak merokok. Karena manusia yang produktif akan selalu melakukan perbuatan yang dapat memberi manfaat bagi orang yang ada di sekitarnya.

Keempat, gemar melakukan kebenaran dan siap menerima kebenaran. Manusia yang produktif tidak akan melakukan hal-hal yang mengandung dosa, menzalimi orang lain, dan akhirnya membawa kepada amaliah yang tidak memiliki kebenaran atau legalitas dari ajaran agama. Bahkan lebih dari itu, dia siap menerima kebenaran jika perilaku atau ibadah yang dilakukannya tergolong hal yang salah dalam pandangan agama. Kritikan perilaku dan amaliah merupakan suatu hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh manusia yang produktif, selama kritikan tersebut mempunyai dasar atau bukti yang jelas. Jika kita gemar menerima kebenaran, otomatis akan menimbulkan semangat untuk selalu melakukan kebenaran.

Walhasil, manusia produktif adalah manusia yang selalu melaksanakan pesan sayyidina Ali radiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya umurmu adalah waktu di mana engkau menggunakannya“. Manusia produktif tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak ada manfaat ataupun tidak dapat membawa dirinya ke arah yang lebih baik. Marilah kita berusaha untuk menjadi manusia yang produktif dengan selalu merenungi kandungan dari surat Al-Ashr. Dengan demikian kita terhindar dari golongan orang-orang yang merugi, bagi rugi di dunia maupun di akhirat kelak. Wallahu a’lam. Fastabiqul khairat. (m45k/Sua)