Ketua Badan Pelaksana BWI, Mohammad Nuh : Jadikan Wakaf Sebagai Lifestyle

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Semarang (Humas) – Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jateng dibuka oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen secara virtual. Kegian ini diikuti oleh 116 perwakilan BWI Jateng dan 35 kabupaten/kota di Jateng yang diselenggarakan di Gedung B Setda Prov. Jateng, Selasa (26/7).

Hadir dalam rakorwil antara lain Ketua Badan Pelaksana BWI, Mohammad Nuh, Ketua BWI Jateng, Imam Maskur, Ketua Baznas Jateng, Ahmad Darodji.

Sedangkan sebagai narasumber Rakorwil adalah Divisi Penelitian dan Pengembangan BWI Jateng, Nur Khoirin, dan Sri Hartini dari Badan Pertanahan Nasional Kanwil Jateng, Kakanwil Kemenag Prov. Jateng, Musta’in Ahmad.

Melansir dari laman suarabaru.id, Ketua Badan Pelaksana BWI, Mohammad Nuh mengajak para pengurus BWI Jateng untuk menjadikan wakaf sebagai lifestyle atau gaya hidup serta menginginkan insan BWI Jateng mampu menjadi penggerak, pencinta dan pejuang perwakafan.

”Saya selalu menekankan untuk selalu bersyukur. Pertama, kita bisa selalu bersyukur, karena tidak semua orang bisa bersyukur. Kedua, kita bersyukur karena hati kita dipertautkan dengan perwakafan. Menjadi penggerak perwakafan harus siap menghadapi berbagai persoalan dan setiap ada persoalan hendaknya disyukuri,” ungkapnya.

Nuh membedah era baru perwakafan nasional. Menurutnya, BWI harus bangkit dan semangat dalam menyongsong masa depan perwakafan yang dulu pernah mengalami kejayaan dan semangat itu ditunjukkan dengan wakaf sebagai gaya hidup. Misalnya Gerakan Tiada Hari Tanpa Berwakaf, tiada hari Jumat tanpa berwakaf dan tiada bulan tanpa berwakaf.

Lebih lanjut, Kakanwil Kemenag Jateng, Musta’in Ahmad menyampaiakan bahwa posisi wakaf di Indonesia sangat kuat karena dipayunghukumi Undang-undang No 41 Tahun 2004 tentang wakaf.

“Seiring dengan kesadaran keagamaan yang tumbuh, seperti berzakat, bersedekah, wakaf pun demikian. ‘Makin hari orang berwakaf makin baik. Kita akan kelola ini, salah satunya dengan rakorwil ini,” ujarnya.

Kakanwil menyebutkan bahwa wakaf itu kurang popular, Maka dari itu sudah waktunya pejuang wakaf bisa memainkan tongkat yang difasilitasi pemerintah misalnya aktif dalam entrepreneur karena wakaf harus menjadi ekonomi yang memberdayakan.

Selain itu, Kakanwil juga akan memperkuat kelembagaan wakaf dan peningkatan kompetensi nazhir “Wakaf itu teorinya lebih kuat dari zakat. Zakat itu kalau sudah selesai habis, namun wakaf it uterus ada sampai kiamat,” imbuhnya. (d/rf)