Brebes (Humas) – Bidang Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menggelar kegiatan Penguatan Implementasi Moderasi Beragama bagi Guru PAI di Hotel Dedy Jaya, Kabupaten Brebes, Rabu (24/9/2025).
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Plh. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Akrom Jangka Daosat, yang didampingi oleh Ketua Tim SMP Bidang PAIS Kanwil Kemenag Jateng, Moch. Moe’izzoeddin, serta Kasi PAIS, Agung Nugroho. Setelah pembukaan, acara berlanjut dengan diskusi moderasi beragama bersama empat narasumber.
Pembicara pertama, Akrom Jangka Daosat yang juga Sekretaris I MUI Kabupaten Brebes, menekankan dua PR besar umat beragama, yakni persoalan hubungan agama dengan negara, serta hubungan agama dengan budaya. Ia mencontohkan tradisi sedekah laut yang sering diperdebatkan, bukan pada esensi sedekahnya,
melainkan tambahan ornamen yang tidak diterima sebagian masyarakat. “Ketika Islam datang ke Indonesia, ada yang menganggap budaya harus dihapus, ada pula yang menganggap budaya perlu dipertahankan. Maka perlu komunikasi agar bisa saling menghubungkan. Islam itu rahmatan lil ‘alamin,” jelasnya.
Pembicara kedua, Direktur Lembaga Penjamin Mutu Madrasah dan Sekolah Indonesia, Siti Nur Hidayati, mengajak para guru PAI untuk menjadi agen moderasi beragama. Ia menegaskan bahwa sikap intoleransi kadang masih tersimpan dalam hati, yang ia istilahkan dengan bahasa Jawa “mbatin ngrasani”.
“Kita harus berani bicara. Keberhasilan moderasi beragama bisa diukur dari empat indikator, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan akomodatif terhadap tradisi lokal. Sedangkan ciri orang moderat adalah terbuka, berorientasi manfaat, rasional, dan tawadhu’,” ungkapnya.
Pembicara ketiga, Kaniah, Guru PAI SMK Negeri 1 Slawi, menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam mendukung pembelajaran. Ia meminta guru PAI untuk mulai memanfaatkan prompt AI dalam menyusun RPP sekaligus menyisipkan nilai-nilai moderasi agama sesuai jenjang pendidikan. “Hal sepele dari TK, guru harus atraktif dengan anak-anaknya. Masing-masing tingkatan punya pendekatan yang berbeda. PR kita adalah bagaimana menyisipkan nilai moderasi ke dalam mata pelajaran,” ujarnya.
Sementara itu, pembicara keempat, Untoro, Guru SMK Negeri 1 Salatiga, mengingatkan bahwa moderasi beragama paling mudah diterapkan dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Ia menekankan pentingnya menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun golongan. “Moderasi beragama yang penting adalah kemaslahatan umum. Katakan tidak pada hal yang salah, dan katakan iya pada hal yang benar dengan tegas,” tandasnya.
Melalui kegiatan ini, para guru PAI diharapkan dapat mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pembelajaran sekaligus mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. (Hilman Najib)








