Semarang (Humas) – Program kolaborasi antara Kementerian Agama dan BAZNAS dalam menerjunkan 2.000 Dai/Daiyah ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di seluruh Indonesia mendapat sambutan hangat. Kesuksesan tahun lalu, yang ditandai dengan tingginya permintaan perpanjangan masa tugas dari para dai-daiyah, menjadi sinyal positif bahwa kehadiran mereka sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Dalam sesi pembinaan yang digelar di Kantor BAZNAS Provinsi Jawa Tengah pada Senin (16/2/2026), Kepala Bidang Penaiszawa Kanwil Kemenag Jateng, Imam Buchori, memberikan pesan mendalam kepada para peserta.
“Kalian adalah wajah Kementerian Agama. Saya berharap adik-adik sekalian dapat menjaga sikap dan membawa nama baik instansi serta daerah asal dengan penuh integritas,” ujar Imam di hadapan para delegasi.
Imam menekankan bahwa program ini bukan sekadar dakwah lisan, melainkan pelayanan nyata yang didukung oleh pemberdayaan ekonomi umat melalui instrumen zakat dan wakaf. Ia mendorong adanya kolaborasi antara tokoh agama dan tokoh budaya agar zakat benar-benar menjadi solusi konkret dalam pengentasan kemiskinan.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersinergi menciptakan Kampung Zakat dan mengoptimalkan peran KUA sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Ini adalah langkah strategis kita untuk mengangkat derajat para pelaku usaha dan masyarakat kurang mampu,” tambahnya.

Sekretaris BAZNAS Jateng, Ahyani, memberikan arahan mengenai pentingnya adaptasi wilayah. Para dai diminta untuk mengedepankan silaturahmi dengan pimpinan daerah setempat setibanya di lokasi penugasan.
“Kenali tipologi daerah, budaya, dan data masyarakatnya melalui koordinasi dengan pimpinan wilayah. Informasi ini adalah fondasi utama agar pembinaan yang kalian lakukan tepat sasaran,” tutur Ahyani.
Sementara itu, Ketua Tim Publikasi Dakwah, HBI, dan Kemitraan Umat, Dyah Irmaningtyas, memaparkan jadwal teknis pelaksanaan. Para dai dijadwalkan sudah berada di lokasi pengabdian pada 18 Februari mendatang.
“Para dai diharapkan mendampingi masyarakat hingga pelaksanaan Shalat Idul Fitri di lokasi tugas. Setelah itu, dokumentasikan seluruh kegiatan sebagai bentuk syiar dan tanggung jawab publik melalui media sosial,” pesan Dyah.
Program ini diharapkan menjadi bukti nyata kehadiran negara di wilayah pelosok, di mana Penyuluh Agama Islam dan KUA akan berjalan beriringan guna memastikan syiar Islam yang moderat dan pemberdayaan ekonomi dapat dirasakan manfaatnya secara luas.(s)



