Toleransi Solusi Konflik Umat Beragama

BLORA – Kita harus mengedepankan sikap toleransi dan perdamaian sehingga tidak terjadi konflik umat beragama yang berlarut larut terutama sesama muslim ataupun antar umat beragama, untuk itu sikap dewasa dan menghargai keyakinan beragama akan mampu meminimalisir meruncingnya kerusuhan umat beragama.

Demikian disampaikan pengurus MUI Blora, Maspuin dalam menanggapi terjadinya peristiwa penolakan pengajian MTA di rumah Ali Sugeng, Rt 05 RW 02 Desa Japah, Kecamatan Japah, Blora oleh ratusan warga  dari berbagai desa di Japah kemaren.

Maspuin yang juga kasi Bimas Islam Kankemenag Blora tersebut sudah meminta kepala KUA Japah, Nur Aziz beserta penyuluh agama Islam yang ada di Japah untuk turut serta melakukan mediasi dan peredaman konflik agama tersebut supaya tidak semakin meluas apalagi menimbulkan korban jiwa dan bersyukur masyarakat bisa menerima mediasi dengan baik.

“kami berharap masing masing pihak saling menjunjung tinggi sikap toleransi untuk menghindarkan diri dari anarkisme akibat fanatisme agama dan alhamdulillah tidak terjadi gejolak yang berlarut larut dan berakhir damai”paparnya serius.

Penyuluh japah, Ismiyatun menyampaikan bahwa pada senin (20/3) memang terjadi peristiwa penolakan warga pada pukul 13.45 WIB terhadap pengajian (Majelis Tafsir Alquran) di rumah Ahmad Ali Sugeng, warga Dukuh Banyuurip, Desa/Kecamatan Japah, yang kebetulan dekat dengan Pondok  pesantren (ponpes) A-Sidiq. Pengajian pun belum bisa berlangsung.

Warga dan para pengurus MTA sempat adu argumen, karena warga menganggap, pengajian yang dilaksanakan pukul 14.00 itu mengganggu warga, sehingga harus dibubarkan.

Supramono, penjabat (Pj) Kepala Desa Japah mengatakan, rencananya pengajian kelompok MTA digelar di rumah Ahmad Ali Sugeng RT 5/RW 2 pukul 14.00. Namun warga menolak dan meminta pengajian itu dipindah. ”Ada sekitar 200-an warga mendatangi lokasi dan meminta pengajian dibubarkan,” ucapnya.

Sekitar pukul 14.45, rombongan Kapolres AKBP Surisman, Dandim Letkol (Inf) Susilo, Kepala Kesbangpol Mei Naryono, Camat Japah Kiswoyo dan Forkompicam setempat tiba di lokasi kejadian dan melakukan mediasi antara warga dan pengikut MTA dan menawarkan Pengikut MTA membatalkan kegiatan pengajian di lokasi tersebut dan dilanjutkan di tempat lainnya.

Pengajian bisa dilanjutkan lagi di tempat lain. Itu bertujuan menjaga hal-hal yang tidak di inginkan, dan tempat pengajian alternatif yang ditawarkan,yakni  di rumah kapolsek Japah dimana  petugas akan menjamin keamanannya.

”Sudah ditawarkan untuk pindah di rumah kapolsek, tidak di sini (rumah Ahmad Ali Sugeng di Dukuh Banyuurip Desa/Kecamatan Japah), namun mereka (para pengikut MTA) tidak mau dan menolak tawaran tersebut,” tegasnya.

Dari pengurus MTA bersikeras bisa melaksanakan pengajian di rumah Sugeng. Selanjutnya, sekitar pukul 15.50 kapolres Blora dan ketua MTA Blora, Suradi tiba di rumah Sugeng untuk kembali melakukan komunikasi. ”Setelah ketua MTA datang dan mediasi, disepakati pelaksanaan pengajian dialihkan di rumah Sagiman, warga RT 8/RW 2 Dukuh Ngrowo, Desa/Kecamatan Japah,” imbuhnya.

 Usai ada titik temu dan kesepakatan itu, pukul 16.45 ratusan warga yang menolak pengajian serta kapolres dan dandim membubarkan diri. ”Warga di lokasi tersebut menolak pengajian itu, karena pelaksanaannya di wilayah pondok. Bahkan, sebelumnya sudah pernah berjalan dan warga mengaku cukup terganggu,” jelasnya.

Camat Japah Kiswoyo mengatakan, akibat penolakan warga, pengajiannya diundur pada Rabu (29/3) pekan depan di rumah Sagimin di Dukuh Ngrowo Japah. ”Total ada 10 KK atau sekitar 25 orang pengikut MTA di desa tersebut,” ucapnya.

Sebelumnya, pihaknya sudah mengingatkan pengurus MTA supaya pengajiannya tidak dilaksanakan di dekat pondok pesantren As-Sidiq. Namun ternyata masih nekat dilaksanakan, sehingga timbul sedikit gejolak tersebut.

Kepala KUA Japah, Nur Aziz menyatakan perlunya sikap saling menghargai satu sama lain apalagi hal yang sangat sensitif seperti agama sehingga kita sebagai umat beragama harus selalu menjaga suasana kondusif. (ima/bd)