Digital Parenting untuk Kecerdasan Digital

Oleh: Hj. Lili Hidayati, M. Pd. I

Akhir 2019 dunia dihebohkan dengan munculnya wabah penyakit yang menjangkiti hampir seluruh negara diberbagai belahan dunia. Tidak hanya negara kaya saja, negara berkembang dan bahkan negara miskinpun juga ikut merasakan wabah tersebut. Virus Corona atau severeacute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena inveksi virus ini disebut covid-19 bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat hingga kematian. Severeacute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang ke siapa saja seperti lansia, orang dewasa, anak-anak dan bayi termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir desember 2019 menyebar sangat cepat ke berbagai belahan dunia. Begitu massive nya penyebaran virus ini, hingga badan kesehatan dunia (WHO) mengkategorikan keadaan ini sebagai pandemi global.

Pandemi covid-19 ini membawa dampak yang besar pada kehidupan dunia, semua sektor kehidupan terdampak, mulai dari sektor ekonomi, sosial, pendidikan, dan pariwisata. Tak ketinggalan, ibadah haji  dan umroh pun ikut terdampak. Karena wabah covid itu, pemerintah Arab Saudi mengambil kebijakan untuk menutup sementara pelayanan umroh bahkan ibadah haji di tahun 2020 juga ditiadakan. Kebijakan ini diambil karena besarnya dampak yang diakibatkan oleh virus yang bermutasi dari binatang ke manusia itu.      

Pandemi Covid 19 yang menimpa hampir seluruh negara di dunia, membawa dampak yang tidak kecil. Secara kesehatan, covid 19 ini mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia selain jutaan lainnya yang sedang dirawat. Secara ekonomi, pandemi ini juga mengakibatkan berjuta orang di dunia yang terpaksa di rumahkan karena banyaknya bidang usaha yang tutup dan tidak lagi berproduksi. Sektor pariwisata dan hiburan juga tak kalah ikut menanggung akibat pandemi covid 19 ini. Belum lagi  sektor pendidikan, lembaga satu ini juga mau tak mau harus ikut beradaptasi dengan berbagai inovasi untuk keberlangsungan pendidikan. Hal ini tidak hanya menimpa negara Indonesia, hampir semua negara di dunia ikut merasakan efek dari pandemi covid 19 ini. Hingga semua pihak mulai dari pakar, praktisi, dan pemerhati bahu membahu bersama pemerintah untuk mencari jalan menghadapi serangan virus covid 19 ini.

Dalam dunia pendidikan, banyak sekali perubahan yang terjadi akibat dari adanya pandemi covid 19 ini. Selama hampir 2 tahun, sistem pendidikan berubah secara total, dari yang tadinya full tatap muka antara guru dan siswanya kini harus mau beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berbagai model dan metode pembelajaran diuji cobakan untuk dapat tetap menjaga mutu pendidikan di Indonesia. Pembelajaran online yang tadinya tidak dikenal sama sekali oleh para pendidik dan peserta didik, mau tak mau harus mereka akrabi. Walaupun tak semaksimal saat pembelajaran tatap muka, namun setidaknya pembelajaran via online memberikan sedikit solusi ditengah ancaman keterpurukan dunia pendidikan ditengah pandemi. Walaupun tidak seideal pembelajaran saat bertemunya guru dan murid secara langsung namun setidaknya hal ini masih memberikan berjuta harapan untuk menyelamatkan generasi muda dari missing generation akibat covid-19. Seperti pepatah tak ada akar rotan pun jadi.

Dengan adanya pandemi ini, masyarakat “dipaksa” untuk melek digital. Dari yang tadinya tidak kenal gadget, sekarang harus bisa menggunakannya. Karena anak-anak sekolah harus mengerjakan tugasnya dengan menggunakan HP. Dari yang tadinya tidak mengenal zoom meeting atau google classroom, terpaksa harus mengakrabinya karena berbagai pekerjaan kantor sekarang harus dilakukan dengan platform digital tersebut. Mau tak mau, suka tidak suka hal itu harus dilakukan. Masyarakat dituntut untuk beralih ke era digital.

Namun, perkembangan teknologi digital nampaknya tidak dibarengi dengan kecerdasan para penggunanya. Era digital hanya dimaknai dengan penggunaan berbagai alat-alat komunikasi yang modern dan cangih hanya demi kepentingan kepuasan nafsu saja namun tidak dibarengi dengan kedewasaan dan kepintaran dalam menggunakannya. Hal ini bisa dilihat  dengan banyaknya anak-anak usia sekolah yang lebih suka bermain game online daripada membaca buku. Mereka lebih suka berlama-lama duduk dihadapan gadgetnya daripada duduk dan bercengkerama dengan orang tua dan keluarga. mereka yang katanya generasi millenial lebih banyak berteman dengan teman-teman di dunia maya  daripada berteman di dunia nyata.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan media komunikasi ini tak hanya membawa dampak negatif, banyak dampak positif yang turut menyertai kemunculan gadget. Dengan gadget kita akan mendapatkan hiburan, teman-teman baru, info dan berita yang menarik dan selalu up to date. Tak hanya itu, dengan gadget ditangan berbagai pekerjaan dapat diselesaikan hanya dengan sekali klik saja. Apalagi di era pandemi ini, yang mengharuskan orang harus banyak belajar, bekerja dan beribadah di rumah.

Banyak platform media sosial yang sekarang ini digandrungi orang, seperti sosial media ada Facebook, Line, twitter, telegram, instagram dan whatshaap. Belum lagi ada berbagai aplikasi game online, youtube dan lain sebagianya. Apapun ada didalam berbagai aplikasi tersbut. Mulai dari yang menghibur, mengadudomba, provokasi, ujaran kebencian,  pornografi lengkap ada semua. Bahkan penyebaran faham-faham radikal yang mengajarkan ajaran sesat dan menyesatkan dalam beragama juga banyak. Sehingga kalau dibiarkan terus tanpa kendali maka bangsa ini akan terancam dengan perpecahan, saling curiga dan membenci, kerusakan moral akibat candu game online dan situs pornografi.

Dampak Gadget bagi Generasi Muda

Bak pisau bermata dua, di sisi yang satu memberikan manfaat namun di sisi yang lain memberikan madhorot. Demikian juga dengan gadget. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan gadget, ternyata tak sedikit juga dampak buruk yang menyertainya. Kemudahan mengakses berbagai situs yang ada di hp, menjadikan anak-anak rentan terpapar faham radikalisme, penyimpangan pemikiran dan idiologi. Tak hanya itu, penguasaan gadget yang tanpa kontrol dan kendali menjadikan anak-anak bebas dalam mengakses berbagai game online, bahkan mereka juga dapat dengan mudah membuka situs-situs porno yang sebenarnya hanya boleh diakses oleh orang dewasa. Karenanya tak heran jika kemudian sekarang ini banyak anak-anak yang terlibat berbagai macam tindak kejahatan seperti tawuran, geng motor serta berbagai tindakan kriminal lainnya karena mereka dengan mudah diprovokasi via media sosial. Atau bahkan yang paling miris lagi adalah para gadis-gadis belia yang polos dirudapaksa atau dilecehkan oleh para hidung belang yang dikenalnya lewat link pertemanan di media sosial. Tak hanya itu, bahkan akhir-akhir ini kita juga diresahkan dengan munculnya grup-grup WA yang didalmnya bergabung para penyuka sesama jenis yang menebar jalanya untuk mencari mangsa anak-anak kecil yang polos dan lugu.

Bagi generasi muda penerus bangsa, banyak dampak negatif yang bisa muncul saat menggunakan media sosial secara tidak bijak. Berikut ini beberapa dampak buruk dari media sosial:

  1. Daya juang lemah, mudah menyerah dan mental lemah
  2. Malas belajar dan enggan membaca
  3. Selalu ingin menjadapat pujian (senang berburu like and subscribe)
  4. Manipulatif (ingin selalu eksis dan mendapat perhatian di medsos)
  5. Kurang tanggap dan tak peduli terhadap lingkungan
  6. Rentan menjadi korban kejahatan.

Sedangkan dampak psikologis games online antara lain:

  1. Mengajarkan kekerasan fisik dan verbal
  2. Meningkatkan agresifitas (marah dan emosi)
  3. Mengandung unsur pornografi dan pornoaksi
  4. Memberikan efek candu dan penasaran

Selain media sosial dan games online, yang tak kalah memprihatinkan juga adalah dampak dari pornografi yang ditonton oleh anak-anak, antara lain:

  1. Anak mudah terangsang (sehingga sering masturbasi atau onani)
  2. Kerusakan otak karena tidak bisa membedakan baik buruk dan hilang sifat malu.
  3. Melakukan penyimpangan dan kejahatan seksual.

Dengan berbagai fenomena tersebut, apakah kemudian kita sebagai akademisi, cendekiawan, agamawan, pendidik, praktisi dan orang tua tidak merasa prihatin? Apakah hal demikian akan dibiarkan saja? Apakah semua hanya akan berpangku tangan dan tidak berbuat apa-apa? Apakah nanti kita semua tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas ketidak pedulian ini?? Tentunya kita semua sepakat bahwa baik akademisi, pendidik, orang tua, praktisi dan agamawan tidak akan diam saja dan tidak peduli. Karena semua menyadari bahwa apapun pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas masing-masing peran yang kita lakonkan. Apapun dan siapapun kita saat ini, harus segera mengambil peran untuk menyelamatkan para generasi muda dari berbagai kerusakan moral akibat dampak negatif gadged.

Alternatif Solusi

Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan gadged, hendaknya tidak membuat kita semua terlena dengan membiarkan generasi muda kita terpuruk dalam candu kenikmatannya. Mereka harus segera disadarkan dari fantasi dan mimpinya sehingga mereka bisa memilih dan memilih mana yang baik untuk diambil dan mana yang buruk untuk dibuang. Tentunya dengan kepedualian kita semua. Tidak hanya orang tua, pendidik serta tokoh masyarakat juga dapat berperan nyata. Terlebih lagi para pemegang tampuk kekuasaan dapat membuat kebijakan yang ramah anak, baik didunia nyata maupun untuk dunia maya.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda dari dampak negatif gadget? Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah yang pertama, Batasi. Orang tua dan guru hendaknya dapat bekerjasama untuk dapat melindungi anak-anaknya dengan cara membuat batasan yang jelas dan tegas. Batasan yang dimaksudkan adalah batasan dalam hal durasi dan situs-situs yang dibuka. Batasi penggunaan gadget harusnya bisa diatur oleh orang-orang dewasa kepada anak-anak.  Batasan yang dimaksud adalah lamanya waktu mereka dalam menggunakan gadget. Jadi mereka tidak dibiarkan bersama gawainya selama duapuluh empat jam tanpa batasan waktu. Selain waktu, batasan yang selanjutnya adalah batasan dalam membuka berbagai situs di internet. Beri bimbingan kepada anak-anak tentang situs-situs yang boleh dan tidak boleh dibuka oleh anak saat berselancar di media sosial. Orang tua dan guru dapat memberikan pemahaman tentang berbagai situs yang ada di internet yang selain banyak memberikan manfaat, tentu ada juga situs yang memberikan dampak negatif jika membukanya.

Peran yang kedua adalah pendampingan. Saat anak berselancar dengan gawainya, usahakan orang tua dapat duduk disebelahnya atau setidaknya berada dalam satu ruang dengan sang anak. Hal ini dilakukan guna mendampingi anak saat menggunakan HP nya. Pendampingan ini sangat bermanfaat untuk memberikan pengawasan kepada anak sehingga sang anak tidak akan membuka situs-situs yang tidak bermanfaat. Selain itu orang tua juga dapat memberikan penjelasan secara langsung tentang berbagai informasi yang barangkali salah dipahami oleh anak. Jangan biarkan anak membuka HP nya sendiri di kamar dengan pintu yang tertutup. Karna dikhawatirkan anak akan leluasa membuka situs-situs terlarang.   

Yang ketiga adalah buat aturan yang tegas. Saat anak mulai menggunakan HP hendaknya sedini mungkin orang tua dan anak membuat kesepakatan yang tegas tentang aturan pengunaan gawai. Orang tua dan anak harus menyepakati bahwa kapan saja boleh membuka HP dan kapan saat tidak boleh membuka HP. Misalnya saat sedang kumpul bersama keluarga, saat makan bersama, waktu belajar, beribadah  dan beristirahat, hendaknya tidak boleh membuka HP. Hal ini bertujuan agar intensitas bersama keluarga tetap terjalin dengan baik. Selain itu ritme waktu belajar, beristirahat dan beribadah juga tidak terganggu. Aturan tegas ini tentunya dibarengi dengan sanksi yang juga harus disepakati bersama antara anak dan kedua orang tua. Hal ini juga tentunya harus sejalan dengan guru yang ada di sekolah. Para guru juga hendaknya dapat membuat aturan tegas saat siswanya menggunakan HP. Batasi waktu serta situs-situs yang boleh dibuka serta waktu-waktu diperbolehkannya membuka HP saat di sekolah. Jadi ada sinergi antara keluarga di rumah dengan guru yang di sekolah.       

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan banyak dampak positif, namun tidak menutup kemungkinan juga dampak negatifnya. Semua kemajuan zaman ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada semua oragn dalam melakukan semua hal. Namun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut tentunya harus dibarengi dengan kedewasaan dan kecerdasan dalam mengunakannya. Jangan sampai berbagai kemudahan yang didapat justru akan menyengsarakan kehidupan umat manusia.(Sua)