Workshop Kurikulum Merdeka Ciptakan Guru Profesional

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Banjarnegara – MTs Negeri 2 Banjarnegara mengadakan workshop Kurikulum Merdeka. Acara digelar selama dua hari mulai Senin (19/06) sampai dengan Selasa (20/06) berlangsung di Aula MTs Negeri 2 Banjarnegara.

Hadir Dr.Fatma Widiyastuti, S.Pd, M.Ed dari Balai Diklat Keagamaan Semarang. H. Karyono S.Pd.I,M.Pd.I selaku Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Banjarnegara dalam sambutannya menyampaikan workshop ini dijadikan sebagai wadah untuk membentuk guru yang profesional dan tanggap akan perubahan.

“Dengan mengikuti kegiatan workshop, harapannya para pendidik mendapatkan pencerahan serta dapat mengimplementasikan dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka ke depan,” jelasnya.

Selanjutnya Karyono menyampaikan bahwa Kurikulum diartikan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh oleh anak untuk menjadi manusia sesungguhnya yaitu dengan mengembangkan potensi diri yang dimiliki. Kurikulum disebut sebagai kebijakan pemulihan pendidikan melalui implementasi kurikulum merdeka. Pada hakikatnya kurikulum yang ada di Indonesia tidak berganti-ganti tetapi yang ada hanyalah berkembang mengikuti dinamika kehidupan.

Sementara itu Fatma Widiyastuti selaku narasumber memaparkan tentang perbedaan kurikulum merdeka sebelumnya.

“Pengembangan dalam kurikulum merdeka sebelum menyusun modul ajar, guru harus melakukan asesmen awal kepada peserta didik. Tujuannya yaitu untuk mengetahui anak sudah bisa apa saja. Kompetensi awal peserta didik harus menjadi patokan guru dalam mengajar, bukan target materi yang harus dijadikan patokan sehingga pembelajaran akan lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa berdasarkan Permendikbud ristek No.5 tahun 2022 dijelaskan bahwa kriteria kelulusan peserta didik pada kurikulum merdeka yaitu karakter ( profil pelajar Pancasila ) dan kompetensi, sehingga proses pembelajaran bukan lagi berbasis materi tetapi berbasis aktivitas.

“Harapan kedepan adalah jangan sampai terjadi lagi school without learning, peserta didik lama di sekolah tetapi tidak banyak belajar,” pungkasnya.

Setelah pemaparan materi dari narasumber, workshop dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi pembelajaran dalam kurikulum merdeka.(en/rf)