Diperlukan Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Keislaman di Sekolah

Grobogan – Penanaman karakter, budi pekerti yang luhur pada pelajar di sekolah merupakan sesuatu yang urgen untuk mendapat cukup perhatian, terlebih waktu yang tersedia untuk pendidikan agama di sekolah cukup terbatas untuk tatap muka. Dengan pengetahuan yang terbatas sudah terbukti remaja, termasuk siswa menengah atas, gampang terjerumus dalam suatu bentuk aliran atau pemikiran-pemikiran yang nganeh-anehi, yang karena keingintahuan mereka hal tersebut dianggap menarik karena sesuatu yang baru. Masalah kenakalan remaja, narkoba, pemikiran kekirian dan kekanan-kananan, dan lagi pergaulan bebas menjadi pekerjaan rumah pendidik untuk membentengi peserta didiknya agar tidak terpengaruh dan terjangkiti.

Belum lagi masalah wawasan kebangsaan yang kian surut, pemahaman keagamaan yang sempit yang merasa benar sendiri yang lain salah tidak berhak hidup dan berkembang selayaknya diberangus dimusnahkan menjadi momok yang menghantui generasi muda generasi penerus bangsa.

Sebagai usaha untuk menangkal pengaruh negatif tersebut dan memunculkan semangat kebangsaan dan keberagaman, Kantor Kemenag Kabupaten Grobogan Kamis (14/02) menyelenggarakan kegiatan Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Wawasan Islam Rahmatan Lil Alamin Bagi Siswa SMA/SMK yang bertempat di Aula PKPRI Purwodadi.

Kegiatan yang diikuti 40 siswa SMA/SMK di Kabupaten Grobogan ini menghadirkan narasumber dari Kodim, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kepala Dinas Pendidikan dan juga Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Grobogan.

Ketua penyelenggara Pelaksana Tugas Kepala Seksi Pendidikan Agama Islam Mat Said menyampaikan tujuan diadakan kegiatan ini diharapkan siswa-siswi di sekolah agar bisa menambah wawasan berbangsa dan bernegara serta wawasan keislaman rahmatan lil alamin yang tangguh.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Grobogan Muh Arifin dalam  kata pembukanya menyampaikan anak-anak SMA sekarang berbeda jauh dengan anak-anak SMA zaman dulu. “Dilihat dari cara berpakaiannya, dari sudut pandangnya, dari pergaulannya maupun dari perilakunya sudah cukup berbeda. Orang dulu masih banyak menjujung norma atau adat budaya timur yang ramah dan santun. Anak sekarang sudah tidak lagi,” urai Muh Arifin membandingkan.

Ditambahkan, dengan adanya teknologi yang modern yang bebas, rata-rata semua siswa sekarang mudah untuk tidak menghormati norma dan terjerumus pergaulan bebas, makanya perlu dibekali wawasan dan dibentengi. Belum lagi dewasa ini dengan teknologi informasi yang tidak terbendung, siswa dan juga remaja perlu diarahkan untuk tidak terjerumus dalam bentuk-bentuk pemahaman dan pemikiran yang bertentangan dengan nilai kebangsaan, keagamaan dan budaya adat ketimuran sebagai ciri khas bangsa.

“Masa SMA termasuk masa keemasan yang harus digunakan sebaik-baiknya mumpung usia masih muda. Ada pepatah orang yang berhenti belajar termasuk pemilik masa lalu tetapi orang yang belajar terus termasuk pemilik masa depan,” tambahnya.

Adanya kegiatan rohani Islam (Rohis) di sekolah dapat membekali diri seorang siswa dengan ilmu dunia dan akhirat, karena lebih baik sedikit ilmu tapi bermanfaat dari pada banyak ilmu tapi tidak manfaat.

“Islam adalah agama yang cinta damai. Jangan sampai para generasi penerus bangsa ini mau disusupi aliran yang tidak jelas. Kegiatan ini juga bertujuan untuk membentengi generasi muda atau remaja agar tidak terseret dalam aliran sesat atau radikalisme dan pengaruh narkoba,” pungkasnya. (bd-pr/gt)