Halal bi Halal, Sebuah Tradisi dan Ajaran Islam

Pati – Dalam rangka menjalin silaturrahim antar pegawai, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati menggelar acara pembinaan mental pegawai sekaligus halal bihalal Idulfitri 1438 Hijriah, yang berlangsung di MAN 2 Pati, Jl. Ratu Kalinyamat Gg. Melati II Tayu Pati, Selasa (4/7).

Hadir dalam acara tersebut Kepala Kankemenag Kabupaten Pati, Plt. Kasubbag TU, segenap kepala seksi dan penyelenggara, Kepala Satker, Kepala KUA, Pengawas, Penyuluh Agama beserta isteri/suami masing-masing, serta ASN Kankemenag Kabupaten Pati.

Kepala Kankemenag Kabupaten Pati, Akhmad Mundakir dalam sambutannya menjelaskan makna Halal bi Halal usai hari raya Idul Fitri 1438 H yang menurutnya merupakan sebuah tradisi dalam agama islam.

“Kami di Kementerian Agama, mengadakan acara Halal bi Halal sebagai sebuah tradisi yang sangat baik, dimana kita semua bertemu, kita saling bermaaf-maafan karena ini adalah ajaran agama,” ujar Mundakir.

Ia menambahkan, acara Halal bi Halal tersebut diadakan usai cuti bersama pegawai Kementerian Agama yang bertepatan pada 10 syawal.

“Ya memang halal bi halal pada 10 syawal (selasa ini) atau minggu ini diawali dengan masuk kerja kembali, setelah liburan dan cuti bersama menghadapi Idul Fitri,” katanya.

Mundakir pun berharap usai Halal bi halal, semua bisa menata kehidupan menjadi lebih baik.

“Kedepan harapannya, dengan kita saling memaafkan, kita bisa menata kehidupan kedepannya lebih baik,” ujarnya.

Hikmah Puasa

Dalam ceramahnya di hadapan seluruh kepala satker dan ASN Kankemenag Kabupaten Pati, Mundakir menjelaskan bahwa keberhasilan ibadah puasa tidak hanya dilihat hanya ketika proses puasa itu berlangsung, tapi juga harus dilihat setelah puasa berakhir, yaitu sekarang dan yang akan datang. “Ukuran keberhasilan ibadah shaum adalah ketakwaaan kita kepada Allah SWT,  sampai seberapa jauh shaum memberikan pesan-pesan dan dampak spritual dan dampak bagi peningkatan ketakwaan kita kepada Yang Maha Kuasa,” paparnya.

Menurut Al-Qur’an, lanjutnya,  selain keimanan dan sholat yang mantap,  indikator ketakwaan  adalah kepedulian dan kesiapan mengorbankan apa saja yang menjadi potensi yang diberikan untuk dimanfaatkan untuk menolong orang lain, baik berupa harta, tahta, ilmu pengetahuan, pengalaman, keunggulan, kekuatan, dan sebagainya. “Selain itu, orang bertakwa selalu siap memiliki kemampuan dalam pengendalian emosi kemarahan,” lanjutnya. Nabi pun berpesan agar hati-hati karena marah itu bagaikan api. “Nabi memberikan resep spritual ketika puncak marah, jangan mengeluarkan kata-kata apapun dan kemudian berucap istighfar.”pungkasnya.

Acara ini semakin semarak dengan ditampilkannya hiburan organ tunggal dari MAN 2 Pati dan musik kulintang dari group “Kulintang Toleransi” Kankemenag Kabupaten Pati dengan lagu-lagu religi di sela-sela acara, bahkan demi mengapresiasi group seni tersebut, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Pati Akhmad Mundakir didampingi istri ikut turut serta menyumbangkan beberapa lagu religi yang isi lagunya berkaitan dengan ceramahnya.

Bertambah menarik perhatian tamu undangan yang hadir, karena di akhir sambutan dan ceramahnya, Mundakir mengajak peserta acara yang merupakan ASN dalam lingkup Kemenag Kabupaten Pati untuk menirukannya mengucapkan 5 (lima) budaya kerja Kementerian Agama beserta gerakannya, yang diawali dengan pemberian hadiah kepada salah satu ASN yang bisa menjawab pertanyaannya tentang 5 (lima) budaya kerja beserta gerakannya. (Athi’/bd)