Hindari Kudis, TBC, dan Wathuk dalam Bekerja

Mungkid – Para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag harus menghindarkan diri kebiasaan buruk yang sering dilakukan kebanyakan ASN yaitu kurang disiplin (Kudis), tidak bisa computer (TBC), dan banyak membaca WhatsApp sambil “manthuk-manthuk” (Wathuk). Ketiga penyakit ini harus diwaspadai karena sangat menganggu produktivitas kerja seorang ASN.

“Penyakit yang pertama Kudis (kurang disiplin). Disiplin tidak harus dimaknai kaku, tetapi pahami tanggung jawab dan tusi, bagaimana melaksanakan tugas dengan baik dari pagi  sampai sore dengan bertanggung jawab kepada atasan langsung, juga kepada Tuhan,” kata Kepala Kantor Kemenag Mad Sabitul Wafa, pada Apel pagi, Senin, (05/03/2018) di halaman Kantor Kemenag.

Wafa berpesan bahwa implikasi dari pemahaman disiplin itu untuk mempertanggungjawabkan pendapatan yang diterima sebagai PNS, sehingga menjadi berkah gaji dan pendapatannya.

“Agar pendapatan dan gaji kita senantiasa berkah, maka hilangkan penyakit kudis ini,” tegasnya.

Penyakit yang kedua adalah Tidak Bisa Computer (TBC). Menurut pengamatan Wafa, masih banyak ASN yang saat ini tidak bisa mengoperasikan komputer, dengan demikian produktivitas kerjanya rendah. Ia mengharapkan  agar para pegawai yang menguasai keterampilan tersebut dapat menularkannya kepada rekan-rekan yang belum bisa.

“Coba tularkan ilmu kepada yang bisa, agar ilmunya berkah dan berbuah. Untuk yang senior, tidak usah malu dan bertanya kepada yang yunior untuk belajar. Sebab, dalam belajar kita bisa kepada siapa saja,” terangnya.

Penyakit yang ketiga adalah sering membaca media sosial, sehingga mengabaikan tugas utamanya. Wafa menyebutnya Wathuk, membaca WhatsApps dengan “manthuk-manthuk”. Seorang ASN memang harus akrab dengan media sosial agar bisa memperoleh informasi terkini yang mendukung kinerja. Tetapi terlalu sering membaca WhatsApps sehingga mengurangi produktivitas kerja sangat tidak diharapkan.

Selain berpesan tentang tiga hal tersebut, Wafa mengajak ASN untuk mengedepankan membaca aturan dalam bekerja. Peraturan-peraturan yang terkait dengan tusinya, agar benar-benar dibaca, dikaji dan ditelaah, sehingga bisa menjadi pedoman dalam bekerja.

“Jika aturan-aturan sudah dibaca, maka siapapun yang menjadi atasan langsung kita tidak akan menjadi masalah bagi kita dalam bekerja,”pesannya.

Terkait dengan serapan anggaran, sesuai evaluasi di akhir bulan Februari, Wafa menginginkan agar kegiatan-kegiatan dengan jumlah besar agar segera direncanakan dan dapat dilaksanakan pada bulan Maret 2018.

“Serapan DIPA yang besar agar direncanakan dengan baik, sehingga merangkak jalan di semula lini karena di Februari kemarin masih mandheg,” tegasnya. (am/bd)