Surakarta (Humas) – Pesantren adalah benteng peradaban, tempat di mana para santri menimba ilmu, mengukir akhlak mulia, dan menemukan jati diri. Namun, seiring berjalannya waktu. Tanggung jawab pemerintah, orang tua dan pengasuh pesantren semakin besar dengan harus dapat menjamin bahwa benteng ini tidak hanya kokoh, tetapi juga terasa sebagai rumah yang paling aman, paling nyaman, dan paling ramah bagi semua santri.
Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Jawa Tengah sukses menyelenggarakan Halaqoh Pesantren Aman, Nyaman, dan Ramah Anak di Pondok Pesantren (PP) Al Muayyad Surakarta, pada Senin (15/12/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya intensif untuk meminimalisir kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pesantren yang kerap menjadi perhatian publik.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Surakarta, Ahmad Ulin Nur Hafsun, secara resmi membuka acara tersebut. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Kota Surakarta memiliki 38 pesantren, dan keseluruhan pondok tersebut telah melakukan deklarasi sebagai Pesantren Ramah Anak.
“Kami telah memberikan sosialisasi dan penguatan kepada 38 pesantren di Surakarta. Selanjutnya, kami akan melakukan asesmen menggunakan instrumen khusus untuk mengukur sejauh mana implementasi Pendidikan Ramah Anak telah diterapkan, sebagaimana diamanatkan oleh PMA 73/2022 dan KMA 91/2025 tentang Peta Jalan Program Pengembangan Pesantren Ramah Anak,” ujar Ahmad Ulin Nur Hafsun.

Sambutan sebagai tuan rumah disampaikan oleh K.H. Faishol Rozaq. Beliau menuturkan bahwa PP Al Muayyad, yang berdiri sejak tahun 1934, telah menerapkan implementasi Pesantren Ramah Anak sejak lama.
“Kami sudah membentuk Satgas Jaga Santri sejak 2018 yang fokus pada kesehatan santri, dan pada 2023, kami membentuk Satgas Sarungan, yaitu Satuan Tugas Santri Anti Perundungan dan Tindak Kekerasan. Ini adalah komitmen kami untuk memastikan pesantren adalah rumah kedua yang aman bagi para santri,” jelas K.H. Faishol Rozaq.

Ketua Tim Kerja Bidang Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah sekaligus Ketua Panitia, Aini Saadah, menyampaikan bahwa kegiatan Halaqoh ini sengaja dilaksanakan sebagai respons proaktif Kemenag dalam meminimalisir kasus kekerasan di pesantren.
“Meskipun kasus kekerasan bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan pendidikan umum, pesantren harus menjadi contoh dalam penciptaan lingkungan yang aman,” kata Aini Saadah.
Halaqoh ini menghadirkan narasumber yang kompeten, di antaranya Adalah Pemateri Internal dari PP Al Muayyad, Wakil Direktur Pascasarjana UIN Kudus yang juga menjabat sebagai Ketua FKPP Jawa Tengah dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten.
Acara ditutup dengan pembacaan doa yang penuh berkah oleh Romo Kyai H. Abdul Rozaq Shofawi, selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al Muayyad.(Sua)









