Kualitas Manajemen Pesantren Semakin Meningkat

Cilacap – “Alhamdulillah dari delapan pesantren wajardikdas semua laporannya disusun dengan baik dan rapi. Penggunaan dan alokasi serta peruntukkan anggaran sesuai data pada perencanaan. Dan yang paling penting adalah tidak adanya laporan keluhan dari masyarakat. Justru mereka semuanya mengapresiasi penyelenggaraan wajardikdas. Hal inilah yang mengindikasikan bahwa secara administrasi, kualitas manajemen pesantren makin meningkat.”

Demikian diungkapkan Kakankemenag Kab. Cilacap melalui Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Subhan Wahyudi, Senin (21/5) usai monitoring penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi pesantren wajardikdas.

Salah satu hal yang sangat penting untuk mendukung kemajuan sebuah lembaga adalah faktor manajemen atau pengelolaan. Seperti apapun baiknya sebuah rencana, tanpa didukung dengan manajemen yang baik maka akan sia-sia. Karenanya, manajemen menjadi sebuah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Tidak hanya lembaga, bahkan tiap pribadi harus memiliki manajemen.

Pendidikan keagamaan seolah-olah tidak mengenal adanya manajemen. Adalah sebuah anggapan yang keliru, karena dalam agama Islam dengan kitab sucinya Al Qur’an telah dimuat ilmu kepemimpinan secara lengkap. Pedoman umat Islam merupakan kitab yang paling lengkap sepanjang zaman. Sehingga isinya pun akan selalu sesuai sampai kapanpun, termasuk di dalamnya manajemen.

“Manajemen bagi umat Islam merupakan hal yang telah dilaksanakan sejak dahulu. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Baginda Rasul saw. Manajemen yang diterapkan oleh Nabi Muhammad saw merupakan pola terbaik yang pernah dilakukan oleh umat manusia. Kehandalan manajemen tersebut dipraktekkan jauh sebelum dunia internasional berteriak akan pentingnya faktor manajemen. Berdasar dari itulah, pesantren mau mengelola dana BOS sesuai aturan pemerintah,”katanya.

Dikatakan lebih lanjut bahwa, pondok pesantren sedari dahulu menggunakan manajemen dengan prinsip ikhlas. Dimana berapapun harta yang dikeluarkan oleh para pengelola, mereka tidak pernah menghitung. Mereka mencari harta untuk berdakwah dan hanya mengharap kebaikan dari Allah. Sehingga manajemen yang diterapkan berbeda dengan pesantren yang mengelola wajardikdas.(On/bd)