Paskah Hadirkan Suasana Damai dan Wujudkan Toleransi Umat Manusia

Wonogiri – Prosesi Jalan Salib atau visualisasi kisah sengsara Yesus kristus digelar jemaat Gereja Paroki Santo Yohanes Rasul Wonogiri di Gunung Gandul, Kelurahan Giriwono dan Giripurwo, Wonogiri, Jumat (14/4). Ratusan umat Katolik memadati panggung alam itu untuk beribadah sekaligus mengenang pengorbanan Yesus dalam balutan drama teaterikal.

Setelah teaterikal tersebut, 500 umat Katolik dibagi menjadi beberapa kelompok menuju tanah lapang di bawah puncak Gunung Gandul untuk melihat prosesi penyaliban Yesus. Mereka dipandu seorang prodakion. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan paska 2017.

Dalam perjalanan, mereka berhenti di setiap pemberhentian dan memanjatkan doa. Terdapat lima pemberhentian dalam perjalanan tersebut. Setiap pemberhentian merupakan kejadian demi kejadian yang dialami Yesus dalam proses penyaliban.

Mulai dari pemanggulan salib, kejatuhan, perjumpaan dengan Ibu, menghibur wanita menangis, hingga penyaliban di pemberhentian terakhir. Seorang Romo dari Keuskupan Agung Semarang, Romo Aldus Subiantara Putra Perdana, mengatakan Jalan Salib kali ini merupakan konsep baru yang mereka usung.

Dalam peringatan Paskah tahun ini, Romo Subi berharap umat Katolik kembali mengingat penderitaan Yesus melalui penyalibannya. “Melalui itu, kita diajak mengasihi sesama dan mau berkorban bagi yang membutuhkan,” tandasnya

Sedangakan Ka. Gara Katolik Kankemenag Wonogiri, Antonius Sukatno di temui di ruang kerjanya, Selasa (18/04) menyampaikan bahwa melalui peristiwa wafatnya Yesus Kristus sebagai bagian dalam rangkaian perayaan Paskah tahun ini di harapkan seluruh umat kristiani bersama-sama bisa mewujudkan damai sejahtera, menciptakan ketenangan, mewujudkan toleransi karena adanya perbedaan, terciptanya kedamaian, dan kerukunan ditengah-tengah keluarga, masyarakat, gereja dan Negara.

“Perdamaian selalu didambakan oleh umat manusia, sejak awal Allah menghendaki agar manusia hidup dengan kedamaian dan keadilan, tetapi perdamaian tidak akan pernah terbina apabila manusia selalu mementingkan diri sendiri, dan tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya dari keserakahan. Perdamaian juga tidak akan terwujud apabila masalah kemiskinan dan pengangguran tidak dapat diatasi,” jelasnya.

Paskah senantiasa menghadirkan suasana damai dan semangat suka cita bagi seluruh umat manusia yang telah ditebus oleh kuasa kebangkitan-Nya. Melalui visualisasi itu, umat diajak berefleksi, mengenang penderitaan Yesus. Yakni ketika mulai ditangkap, dicela, disiksa, dan akhirnya mati dikayu salib. (Mursyid___Heri)