Perayaan Tri Suci Waisak di TITD Dharma Nugraha Parakan Kab. Temanggung

Temanggung (Buddha)- Perayaan Waisak 2561 BE/ Tahun 2017 yang dilaksanakan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Dharma Nugraha Parakan, Kabupaten Temanggung (7/5) dihadiri oleh Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera dari  Sangha Theravada Indonesia (STI), Sutarso selaku Pembimas Buddha, Suwardi selaku Penyelenggara Bimas Buddha Kantor Kementerian Agama Kab. Temanggung, FKUB Kab. Temanggung, Perwakilan TITD Magelang, Salatiga, dan Semarang serta 500 umat Buddha di Kab. Temanggung.

Dalam ceramahnya Paññavaro menekankan agar umat Buddha senantiasa menjalankan 5 (lima) sila (aturan moral) dengan melatih diri untuk menghindari membunuh mahkluk hidup, mencuri, berbuat asusila, berbohong, maupun makan/minum yang memabukan. Dengan praktik murni terhadap lima aturan ini umat Buddha diharapkan dapat mengendalikan diri yang sebernarnya dan selalu berusaha memuliakan orang lain/ pihak lain.

Dengan mengedepankan moral umat Buddha diharapkan untuk selalu bermawas diri dan tanpa henti melatih batin agar dapat berusaha hidup dengan sedikit kesalahan hingga terwujud ketentraman dan kebahagiaan hidup.

“Cinta kasih penjaga Kebhinekaan” pesan pannavaro dalam ceramahnya, dia menjelaskan dengan cinta kasih dan saling mengasihi diantara sesama manusia maka tidak akan timbul lagi sekat perbedaan, dan dengan saling mengasihi maka harkat dan martabat sesama manusia semakin meningkat.

“Meski terlahir dengan latar belakang yang berbeda namun tidak akan menghilangkan sifat dan jati diri sebagai manusia, maka seyogyanya perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan sebagai tempat berlatih memuliakan manusia” tegasnya.

Dalam sambutannya sutarso selaku Pembimas Buddha memberikan penekanan agar umat Buddha mengambil hikmah dari ceramah yang telah di sampaikan oleh sangha, dan selalu mengembangkan cinta kasih kepada sesama agar tercipta keharmonisan.

“tidak hanya dalam bersikap dan berprilaku melalui badan jasmani, bahkan dalam praktik meditasi kita selalu mengembangkan cinta kasih” tegasnya, menurut sutarso praktik yang paling mudah dalam melaksanakan pesan Buddha adalah dengan senantiasa menjaga lisan pada saat bertutur kata agar tidak menyinggung pihak lain, dan selalu menahan diri agar tidak terpancing dalam kemarahan. Karena dengan kedua hal ini, maka energi positif yang ada didalam diri kita senantiasa terjaga dan selanjutnya akan memberikan rasa damai di hati masing-masing.(siswanta)