Siswa Madrasah Harus Meniru Ghirah Santri

BANYUMAS – Siswa madrasah itu harus meniru ghirah santri. Santri itu punya jiwa Istiqamah berakhlakul karimah dalam menuntut ilmu, punya sopan santun dan memiliki ketaatan yang luar biasa kepada kyainya. “Itu harus ditiru oleh siswa madrasah” tegas Hanif Fauzi, Kepala MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang saat melepas siswa kelas IX pada kegiatan Pesantren Kilat Tahun 2018, senin (24/9) lalu.

Lebih lanjut Hanif menjelaskan bahwa selain dalam rangka menyongsong Hari Santri Nasional, Pesantren Kilat ini bertujuan untuk mendekatkan kultur pesantren sebagai bagian dari sejarah pendidikan Indonesia dalam mengajarkan ilmu agama serta memupuk semangat keislaman dengan berlandaskan pada ajaran agama yang humanis di tengah-tengah hiterogensi masyarakat dan corak keagamaan yang mulai kehilangan ruhnya.

Kegiatan Pesantren Kilat MTs Ma’arif NU 1 Jatilawang Tahun 2018 dilaksanakan selama tiga hari sejak Senin (24/9) hingga Rabu (26/9) diikuti oleh siswa kelas IX berjumlah 261 siswa yang terbagi di 3 Pondok Pesantren yaitu 166 siswa di Pondok Pesantren Al Falah, 86 di Pondok Pesantren Al Muta’abidin, dan 9 siswa di Pondok Pesantren Raudlatul Huda. Ketiga pondok beralamatkan di Desa Tinggarjaya Kecamatan Jatilawang.

Koordinator kegiatan, Syukron Ma’muri mengatakan kegiatan Pesantren Kilat ini sengaja dilaksanakan di Pondok Pesantren untuk mengenalkan secara langsung tradisi dan kegiatan pesantren kepada para siswa MTs dan memberikan pembekalan mental dan spriritual dengan mengoptimalkan kultur batiniyah ke arah yang lebih positif dan dinamis.

Menurut Syukron pesantren dipilih sebagai tempat kegiatan karena ada dua keajegan  pesantren dalam menjaga komitmen istiqamah dalam pendidikannya. Pertama, istiqamah dalam melangsungkan pendidikan yang berbasis akhlakul karimah. Kedua , istiqamah dalam melestarikan tradisi. “Ini yang ingin kita tiru dalam mengajar anak-anak di MTs” ujarnya.

Dengan adanya kegiatan pesantren ini, kita berharap siswa-siswi madrasah makin berakhlakul karimah, disiplin dalam menuntut ilmu, serta patuh dan menghormati orang tua dan gurunya. “ Kami tidak ingin siswa-siswi madrasah terjerumus dalam kebobrokan pendidikan yang sering diberitakan media sosial seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, seks di luar nikah dan lain sebagainya. Maka wajib hukumnya siswa madrasah mewarisi ghirah para santri yang belajar di pesantren.” Tandas Hanif. (ak/bd)