Verifikasi Permohonan Siop Pondok Pesantren Putra-putri Jlamprang

Batang – Kantor Kementerian Agama Kab. Batang yang diwakili Plt. Kasi PD Pontren  Subkhi beserta dua stafnya  melakukan verifikasi permohonan siop pondok pesantren putra-putri Jlamprang, Jum’at (10/03) Ds. Jlamprang Kec. Bawang Batang. “Kegiatan itu dilakukan untuk memastikan bahwa pondok tersebut memang betul-betul memenuhi standar dan layak untuk mendapatkan ijin dari Kemenag” kata Subkhi dalam mengawali sambutannya.

Pondok Pesantren yang diasuh oleh Kyai Muhammad Irfandi tersebut berdiri pada tahun 2013 dan dibangun di atas tanah wakaf seluas 1000 M2. Pada awal berdiri jumlah santri ada 18 anak dan sekarang sudah mencapai 120 santri yang berasal dari berbagai wilayah, diantaranya ada yang dari Jawa Barat dan Papua, tutur pengasuh.

Dalam kesempatan itu Subkhi juga mengapresiasi kepada pengasuh yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan membina dan mencerdaskan anak-anak bangsa yang tentunya adalah sebagai generasi di masa mendatang dengan tantangan zaman yang semakin komplek yang sudah semestinya itu adalah menjadi tanggung pemerintah sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Bahwa pesantren di Indonesia memiliki peran yang sangat besar terhadap perkembangan Islam maupun bagi bangsa Indonesia. Akan tetapi kini reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh sebagian masyarakat. Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading, elitis, jauh dari realitas sosial. Oleh karena itu terjadilah kesenjangan, alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan) antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. Sehingga terkadang lulusan pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. Dunia pesantren dihadapkan kepada masalah-masalah globalisasi, yang dapat dipastikan mengandung beban tanggung jawab yang tidak ringan bagi pesantren.

Semakin disadari, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat dimasa kini dan mendatang. Paradigma “mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik” perlu direnungkan kembali. Pesantren harus mampu mengurai secara cerdas problem kekinian kita dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Disisi lain, modernitas, yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh kalangan pesantren, ternyata berisi paradigma dan pandangan dunia yang telah merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia.

Oleh karena itu Kasi Pontren (PLT) Subkhi berharap agar pembelajaran tradisional seperti sorogan, bandongan, balaghan, atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan system pembelajaran modern. Dalam aspek kurikulum juga seharusnya kalangan pesantren berani mengakomodasi kurikulum pemerintah dan mengembangkan sesuai kebutuhan. Sehingga melahirkan generasi yang handal yang siap menghadapi berbagai tantangan zaman di era globalisasi sekarang ini. (Sis_Red)