Gerakan Santri Menulis, Salah Satu Upaya Melakukan Kontra Terhadap Hoak

Kebumen – Bahwa betapa kita sekarang ini hidup dalam banyak dunia, kita tidak lagi hidup dalam satu dunia yang nyata, tetapi kita hidup dalam dunia virtual, dunia digital (post realitas ). Dimana dalam dunia semacam itu semua nilai – nilai tidak hanya satu. Nilai – nilai begitu banyak, begitu juga dengan kebenaran. Sebuah kebenaran yang diklaim di dunia nyata bisa saja buruk di dunia yang lain.

“Berkaca pada hal tersebutlah, maka Suara Merdeka tergerak untuk melakukan sebuah gerakan  yang disebut dengan Gerakan Santri Menulis.” Ungkap Wakil Pemimpin Redaksi (Wapimred) Suara Merdeka Triyanto Triwikromo saat pembukaan Gerakan Santri Menulis di Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu Kebumen, Selasa (12/04).

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Kebumen yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Kominfo Budi Suwanto. Turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kebumen H. Ibnu Asaddudin didampingi Kasi PD dan Pontren H. Makruf Widodo, Pengasuh Ponpes Al Kahfi Somalangu K.H. Afifuddin Chanif Al-Hasani dan Kepala Desk Banyumas Suara Merdeka Agus Fathudin Yusuf.

“Hari ini kita tidak berada dalam satu nilai, maka hal – hal yang bersifat ketauhidan dan bersifat kebenaran harus digelorakan. Kita harus menyusup ke dunia digital melalui berbagai platform untuk mengcaunter kabar bohong yang muncul dimana mana,”ajak Wapimred Suara Merdeka.

Untuk tujuan tersebut, menurut Triyanto, maka harus ada media – media yang dikuasai dan ada orang yang bisa diandalkan untuk itu. Dan dalam pandangannya, salah satunya adalah santri melalui gerakan santri menulis.

Turut menguatkan, Kepala Kankemenag H. Ibnu Asaddudin mengungkapkan bahwa pelatihan menulis ini akan lebih bermanfaat manakala dilaksanakan di Ponpes Al Kahfi Somalangu.

“Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan tulang, maka kita mati meninggalkan tulisan, dan semakin banyak tulisan maka kita akan terus berkembang,” demikian ungkapan penyemangat yang disampaikan H. Ibnu kepada selurh peserta pelatihan.

Ibnu berharap usai pelatihan ini akan lahir penulis – penulis handal yang mampu mewarnai dunia digital dengan narasi dan berita – berita positif.  Akan tetapi agar pesan kita mudah diterima dan mudah dipahami oleh pengguna media, tentu dibutuhkan narasi dan tulisan yang baik dan benar serta menarik.

Seiring berkembangnya dunia digital Ibnu juga berharap melalui pelatihan ini nantinya juga akan terus berdatangan santri – santri online dari seluruh dunia. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita bisa menguasai berbagai media dan platform yang ada seperti facebook, You Tube, Tik Tok, Instagram dan lain sebagainya.(fz/bd).