40 Siswa MAN Pekalongan Ikuti Diklat Jurnalistik

Kab.Pekalongan- Dalam Jurnalistik ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah tulisan yang layak disajikan kepada para pembaca. Tak hanya isi namun bagaimana alur cerita disajikan secara apik agar pembaca dari berbagai usia mudah memahami dan menangkap apa yang terkadung didalamnya.

Hal itulah yang ditekankan jurnalis Radar Pekalongan Malekha, saat menjadi pemateri  pada kegiatan Diklat Jurnalistik MAN Pekalongan Rabu (24/10) kemarin, diikuti 40 orang terdiri dan Pengurus majalah Gema dan perwakilan kelas X dan XI, Kegiatan dilaksanakan di aula MAN Pekalongan. Jurnalistik menjadi ektrakulier di MAN Pekalongan bahkan sudah menghasilkan produk Media yang dinamakan “GEMA” terbit 2 kali dalam setahun.

Malekha juga berbagai pengalaman baik suka maupun duka dalam mencari berita serta apa ayang harus dipersiapkan saat jurnalis hunting di lapangan, bagaimana seorang jurnalis harus mempunyai sikap tanggungjawab yang besar dalam memberikan informasi pada public. Kiat seorang jurnalis adalah menyampaikan informasi yang sebenar-benarnya, dan mampu menjadi acuan bagi masyarakat dalam bertindak.”terangnya.

Sementara itu Pembina Ekskul Jurnalistik Nur Afna menuturkan diklat jurnalistik tersebut bertujuan untuk memupuk solidaritas antara tim jurnalistik, sekaligus dapat menghasilkan tulisan pers yang enak dibaca untuk khalayak umum.Kegiatan ini menjadi media bagi para siswa kami, agar bisa belajar  bagaimana membuat sebuah narasi berita yang sesuai dan mampu mereka terapkan dalam produk yang kita miliki yaitu “GEMA.”tegasnya.

Kepala MAN Pekalongan Bukhori, berharap agar diklat jurnalistik yang sudah disediakan oleh sekolah bisa diikuti siswa sebaik-baiknya serta tak lupa tetap membaca referensi, Melalui pelatihan atau diklat jurnalistik ini, peserta akan mampu mengemas naskah-naskah di media internal mereka menjadi jauh lebih menarik, baik itu naskah berita, artikel, feature, ataupun tulisan laporan, dan setelah draft naskah jurnalistik dihasilkan, atau ada naskah kontributor yang masuk, maka pada umumnya naskah tersebut perlu direvisi dan bahkan bisa jadi harus dikemas ulang. Bagaimana mengubah naskah yang tadinya “biasa-biasa saja” menjadi naskah yang “luar biasa”katanya. (hfrn/rf)