Dialog Lintas Agama Merupakan Pengejawantahan Kerukunan

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print

Semarang, Selasa (19/7/2022) Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang kembali menggelar dialog lintas agama, yang mengusung tema Peningkatan Moderasi Beragama untuk Memperkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa dalam Bingkai Kebhinekaan.

Kegiatan ini diikuti oleh 80 peserta, baik dari unsur tokoh agama, tokoh masyarakat, profesional maupun akademisi.

Kegiatan yang digelar di Hotel Grasia tersebut dihadiri pula oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Semarang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Semaramg, dan Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Semarang.

Dalam laporannya, Ketua Panitia I Nengah Tirta Darmayana menyampaikan, kegiatan dialog lintas agama dimaksudkan sebagai ajang untuk memperkuat  persatuan dan kesatuan masyarakat Kota Semarang.

Senada dengan I Nengah Tirta Darmayana, KH. N Mustamaji selaku Ketua FKUB Kota Semarang, dalam sambutannya menuturkan, kerukunan peserta kegiatan sebagai pengejawantahan kerukunan di Kota Semarang. “Peserta kegiatan dialog lintas agama berasal dari berbagai unsur, baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan juga aliran kepercayaan. Semua dapat duduk bersama dengan baik dan rukun, guna membahas upaya-upaya apa saja yang perlu dilakukan guna mewujudkan Kota Semarang yang semakin damai, tenteram dan sejahtera,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan informasi kepada peserta kegiatan, bahwa pada tahun 2018 dan 2020 baik FKUB Kota Semarang maupun Walikota Semarang telah menerima penghargaan berupa Harmony Awward, yaitu sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan oleh Menteri Agama atas keberhasilannya dalam mewujudkan kerukunan masyarakat di daerahnya.

“Saat ini sedang dilakukan penilaian untuk periode tahun 2021, dan kami optimis baik FKUB Kota Semarang atau Walikota Semarang akan memperoleh penghargaan tersebut,” ungkapnya.

“Penilaian ini bukan hanya penilaian terhadap lembaga/organisasi atau personal, tetapi merupakan penilaian secara keseluruhan, yaitu masyarakat Kota Semarang. Siapa masyarakat Kota Semarang? Ya diantaranya kita yang hadir disini,” sambungnya.

Ia menyampaikan harapan, melalui kegiatan dialog lintas agama yang juga menghadirkan narasumber-narasumber handal di bidangnya, dapat menggali kearifan budaya lokal. “Kearifan budaya masyarakat Kota Semarang sangatlah banyak, seperti Dugderan. Dugderan bukan hanya kekayaan budaya, tetapi dia juga mengandung unsur-unsur keagamaan. Hal-hal seperti inilah yang harapannya dapat digali dan dikembangkan sebagai sarana peningkatan kerukunan di Kota Semarang,” tandasnya.

Tak lupa ia menyampaikan pesan kepada peserta kegiatan untuk bersikap secara dewasa dalam menghadapi perbedaan. “Tahun ini mendekati tahun politik. Kedewasaan harus mulai dipikirkan dalam menghadapi berbagai perbedaan, agar masyarakat Kota Semarang tetap rukun dan damai,” pungkasnya.(Sy/NBA/rf)