Isu Kejahatan Terhadap Anak, Ortu dan Guru RA Diminta Waspada

Rembang – Setelah isu narkoba, masyarakat kini dibuat khawatir oleh isu penculikan anak oleh sejumlah oknum. Isu ini sudah menghawatirkan penduduk perumahan hingga masyarakat pedesaan. Hal ini membuat keprihatinan bagi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah.

Di sejumlah media dikabarkan, korban penculikan anak-anak tersebut akan dimanfaatkan untuk iktikad yang tidak baik. Terlepas dari benar atau tidak, Atho’illah mengimbau kepada pengelola Raudlatul Athfal agar lebih ketat dalam memperhatikan siswa-siswi RA. Terutama ketika berada di luar kelas, atau sedang menunggu dijemput oleh keluarganya.

Menurut Atho’illah, anak-anak tersebut merupakan tanggung jawab pengelola RA yang berada di bawah naungan Kementerian Agama. “Ancaman terhadap keselamatan anak harus disikapi dengan cepat oleh para guru,” tandas Atho’illah.

Dia mengatakan, anak-anak merupakan generasi emas bangsa. Kita hendaknya menaruh perhatian yang besar agar tidak terjadi hal-hal yang buruk menimpa mereka, bahkan membuat mereka trauma,” kata Atho’illah.

Selain guru, Atho’illah juga meminta orang tua lebih ekstra mengawasi anak-anak mereka. “Diperlukan sinergitas perhatian, pengawasan, dan pengamanan untuk anak-anak kita. Baik oleh orang tua, masyarakat, guru, ataupun sekolah. Insya Allah hal tersebut akan menjadi solusi,” kata Atho’illah.

Kendati demikian, Atho’illah meminta masyarakat untuk menyaring setiap informasi yang beredar. Karena belum tentu informasi tersebut benar. “Sekarang ini informasi sangat cepat merebak di media sosial. Hanya dengan sekali sentuh HP, kita sudah tahu info dari belahan dunia. Namun demikian, tidak serta merta kita menelan mentah-mentah informasi tersebut. Apalagi tentang kejahatan terhadap anak ini, mungkin ada sebagian oknum yang ingin memanfaatkan untuk kepentingan lain,” urainya.

Beberapa hari lalu, seorang guru RA, sebutlah Rina, mengungkapkan ada salah satu siswa hendak dijemput oleh orang tua yang mengaku ‘eyang’nya. Namun Rina tidak memperbolehkan karena dia sudah hafal eyang yang biasa menjemputnya. “Untuk orang tua kami himbau agar menjemput anak tepat waktu,” kata Rina.(ss/bd)