Semarang (Humas) — Kementerian Agama terus mendorong penguatan kinerja dan komunikasi publik agar kehadiran agama serta program pemerintah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan pembinaan yang diikuti Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama seluruh Indonesia, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, para Pembimas, serta Kepala Bidang di lingkungan Kanwil Kemenag Jawa Tengah, di Semarang, Minggu (13/9/2026).
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin menegaskan, agama memiliki posisi fundamental dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Menurutnya, Indonesia bukan negara teokrasi, tetapi merupakan negara yang sangat religius, sehingga keberagamaan memiliki peran penting dalam menentukan arah kehidupan bangsa.
“Peran Kementerian Agama dalam proses berbangsa dan bernegara sangat ditentukan oleh layanan dan program kita di tengah masyarakat,” tegasnya.
Kamaruddin mengatakan, Asta Protas Menteri Agama menjadi salah satu fase baru dalam kehidupan keberagamaan di Indonesia. Agama tidak cukup hanya menghadirkan kesalehan pribadi, tetapi harus semakin fungsional dengan memberikan kemaslahatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia mencontohkan ekoteologi dan Kurikulum Cinta sebagai bagian dari pendekatan baru yang mendorong agama hadir dalam menjawab persoalan kehidupan. Karena itu, jajaran Kementerian Agama diminta terus menantang diri untuk memikirkan bagaimana agama dapat memberikan perspektif, solusi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Kita harus mengikuti isu-isu yang berkembang agar agama bisa memberikan perspektif dan saran. Agama harus hadir dan memberikan kemaslahatan,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu menyampaikan bahwa Kementerian Agama pada tahun sebelumnya masuk dalam tiga besar kementerian dengan kinerja terbaik. Capaian tersebut, menurutnya, merupakan hasil kerja keras seluruh satuan kerja.
Untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan publikasi sebagai salah satu indikator kinerja kementerian.
“Dalam menyampaikan publikasi, mari kita lakukan perubahan dari publikasi kegiatan menjadi publikasi dampak,” kata Ismail.
Ia merangkum enam langkah yang perlu diperkuat seluruh satuan kerja.
1. Publikasi berdampak — ubah publikasi dari sekadar kegiatan menjadi informasi tentang dampak yang dirasakan masyarakat.
2. Program mudah diingat — prioritaskan program yang dekat dengan masyarakat dan manfaatnya langsung terasa.
3. Tampilkan data kinerja — gunakan dashboard publikasi dengan angka dan capaian yang jelas.
4. Kakanwil sebagai komunikator — aktif menyampaikan layanan melalui podcast, konferensi pers, dan testimoni masyarakat.
5. Content factory — olah satu kegiatan menjadi berbagai jenis konten.
6. Human story — angkat kisah kemanusiaan dan pengalaman nyata masyarakat penerima manfaat.
Dengan penguatan layanan, program, dan komunikasi publik tersebut, Kementerian Agama diharapkan semakin mampu menghadirkan agama yang berdampak sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.
Ia mencontohkan ekoteologi dan Kurikulum Cinta sebagai bagian dari pendekatan baru yang mendorong agama hadir dalam menjawab persoalan kehidupan. Karena itu, jajaran Kementerian Agama diminta terus menantang diri untuk memikirkan bagaimana agama dapat memberikan perspektif, solusi, dan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
“Kita harus mengikuti isu-isu yang berkembang agar agama bisa memberikan perspektif dan saran. Agama harus hadir dan memberikan kemaslahatan,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu menyampaikan bahwa Kementerian Agama pada tahun sebelumnya masuk dalam tiga besar kementerian dengan kinerja terbaik. Capaian tersebut, menurutnya, merupakan hasil kerja keras seluruh satuan kerja.
Untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan capaian tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan publikasi sebagai salah satu indikator kinerja kementerian.
“Dalam menyampaikan publikasi, mari kita lakukan perubahan dari publikasi kegiatan menjadi publikasi dampak,” kata Ismail.
Ia merangkum enam langkah yang perlu diperkuat seluruh satuan kerja.
1. Publikasi berdampak — ubah publikasi dari sekadar kegiatan menjadi informasi tentang dampak yang dirasakan masyarakat.
2. Program mudah diingat — prioritaskan program yang dekat dengan masyarakat dan manfaatnya langsung terasa.
3. Tampilkan data kinerja — gunakan dashboard publikasi dengan angka dan capaian yang jelas.
4. Kakanwil sebagai komunikator — aktif menyampaikan layanan melalui podcast, konferensi pers, dan testimoni masyarakat.
5. Content factory — olah satu kegiatan menjadi berbagai jenis konten.
6. Human story — angkat kisah kemanusiaan dan pengalaman nyata masyarakat penerima manfaat.
Dengan penguatan layanan, program, dan komunikasi publik tersebut, Kementerian Agama diharapkan semakin mampu menghadirkan agama yang berdampak sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah.








