Kurtilas jawaban atas perubahan sosial generasi muda bangsa

Karanganyar – Meningkatnya kecerdasan intelektual anak sekarang ini ternyata tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi yang dalam hal ini sikap santun dan kemandiriannya. Hal tersebut dirasakan betul oleh sebagian besar orang tua dan guru di lingkungan sekolah.

“Anak-anak zaman sekarang ini lebih pintar dalam segala hal, namun mereka memiliki kekurangan bila dibandingkan anak-anak dahulu. Tidak lain adalah tentang kesopanan dan kemandiriannya. Kalau ini diteruskan, akan sangat berbahaya untuk kelangsungan bangsa Indonesia.”

Demikian disampaikan Kepala Kankemenag Kabupaten Karanganyar, Musta’in Ahmad saat membuka kegiatan pendampingan implementasi kurikulum 2013 pada Selasa kemarin, (15/12). Acara yang dilaksanakan di MIN Kragan, Gondangrejo tersebut diikuti oleh 50 guru PNS dan Non-PNS dari berbagai Kecamatan, dimana kesemuanya belum pernah mengikuti workshop kurtilas sebelumnya.

Lebih lanjut Kakankemenag mengatakan bahwa untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosi yang dalam hal ini adalah kesopanan dan kemandirian, Kurikulum 2013 adalah jawabannya.

Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa titik tekan kurikulum 2013 adalah kecerdasan spiritual, dan emosi atau pendidikan karakter. “Oleh karena itu guru yang merupakan ujung tombak pendidikan sangat berperan dan harus mampu menjadi teladan bagi siswa maupun lingkungannya. Sehingga guru akan kembali ke jatidirinya, digugu dan ditiru,” tambahnya.

Selain itu, Kakankemenag juga mengatakan pada peserta kegiatan implementasi kurtilas bahwa perubahan kurikulum adalah sebuah keniscayaan. Menurutnya perubahan sosial yang terjadi dari masa ke masa juga harus diimbangi dengan perubahan pola pendidikan.

“Pola pendidikan terdahulu itu ada beberapa yang bagus, namun seiring perubahan zaman hal tersebut menjadi kurang relevan diterapkan, sehingga kita harus mengikuti zaman,” jelas Mustain.

Terakhir Kakankemenag menyampaikan tentang 6 hal yang harus dikembangkan di Madrasah, pertama adalah nilai-nilai keislaman, kedua adalah nilai-nilai keindonesiaan, ketiga adalah nilai-nilai keilmuan, keempat adalah nilai-nilai kemandirian, kelima adalah nilai kemoderenan, keenam adalah nilai-nilai keumatan. (Hd)