Memanfaatkan Waktu di Tanah Suci Dengan Berbagi Ilmu

Kota Magelang – Lilik Fatkhu Diniyah, salah satu guru honorer Madrasah Ibtidaiyah, yang tepatnya mengajar di MI Al-Iman Kota Magelang. Lilik yang telah menulis beberapa buku dan sering menjadi narasumber di berbagai pelatihan diminta untuk mengisi kegiatan pelatihan menulis buku bagi para siswa SD hingga SMA di Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ). Memanfaatkan waktu berhaji untuk berbagi ilmu adalah hal yang sangat sulit, apalagi di sekolah yang istimewa yaitu Sekolah Indonesia Jeddah. Atas persetujuan ketua rombongan dan ketua kloternya, Lilik diizinkan mengisi pelatihan dengan catatan setelah kegiatan rukun dan wajib haji selesai.

Setelah selesai melaksanakan semua kegiatan ibadah haji, Lilik bersiap menjadi narasumber pelatihan. Pelatihan dilaksanakan mulai pukul 08.00 – 18.00. Sugiyono, S.Pd., M.Pd, selaku Kepala Sekolah SIJ memberikan sambutan.

“Anak-anak SIJ memiliki kemampuan menulis yang luar biasa, mereka memiliki bahan yang beraneka ragam untuk dijadikan tulisan. Di mana mereka harus belajar dengan kurikulum Indonesia, sementara sebagian di antara mereka ada yang belum pernah melihat tanah air Indonesia,” ujar Sugiyono.

Sugiyono berharap dengan diadakannya pelatihan ini akan menghasilkan karya berupa buku bagi anak-anak SIJ yang tergabung dalam ekstrakurikuler jurnalistik dari jenjang SD hingga SMA. Dalam materinya, Lilik memberikan semangat kepada para siswa SIJ, bahwa mereka adalah anak-anak yang istimewa dan diasuh oleh para guru istimewa yang merupakan guru-guru pilihan di Indonesia yang dikirim ke Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

“Anak-anak SIJ memiliki karya yang layak dibukukan. Mereka tinggal diarahkan sesuai passionnya,” kata Lilik.

Saat praktik menulis, Lilik memberikan waktu tiga puluh menit supaya anak-anak menulis bebas sebanyak 300 kata sesuai passion mereka. Anak-anak begitu semangat dan mampu menghasilkan tulisan berupa cerpen, puisi, dan cerita bergambar atau komik. Lilik juga meminta para siswa mempresentasikan hasil tulisannya, memandu mengevaluasi dan mengoreksi tulisan mereka sendiri, baik dari segi ejaan maupun tanda bacanya. Sebagian besar tulisan siswa cukup bagus, hanya perlu bimbingan dari pendampingnya. Mereka diberi waktu deadline selama satu bulan, dimana bagi yang selesai sesuai deadline maka bukunya akan diterbitkan.

Besar harapan semoga para guru madrasah juga mampu menghasilkan karya berupa buku. Karena pada dasarnya menulis itu mudah. “Menulis itu hanya perlu latihan. Dengan menulis setiap hari, akan memperpanjang umur kita, selain itu apa yang kita tulis juga bisa menjadi lading berdakwah atau menebar manfaat keabikan untuk sesama,” tambahnya.

Apalagi bagi guru, itu sangatlah mudah untuk membuat tulisan, karena guru memiliki segudang materi untuk ditulis. Di antaranya bisa menulis tentang pengalaman mengajar, pengalaman mengatasi kesulitan dan permasalahan anak didik, dan masih banyak lagi hal yang dapat ditulis oleh para guru madrasah.(Lilik/Sua)