Menag sampaikan Bela Sungkawa kepada Gus Mus

Rembang – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri acara tahlilan tiga hari wafatnya Hj. Siti Fatma, almarhumah istri KH. Ahmad Mustofa Bisri pada Sabtu malam (02/07) sekitar pukul 20.00 WIB. Acara ini terasa semakin lengkap karena juga dihadiri oleh KH. Maemun Zubair dan juga para pejabat dan sejumlah tokoh agama.

Hadir beserta sang istri Trisna Willy Saifuddin, turut hadir bersama rombongan Menag Pgs. Kepala Kantor Wilayah Provinsi Jawa Tengah, Saifuddin Zuhri beserta istri, Kepala Bagian Tata Usaha, Andewi Susetyo beserta istri, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Atho’illah. Hadir pula Anggota DPR RI Arwani Thomafi dan Ketua DPRD Kabupaten Rembang, Majid Kamil MZ.

Sebelum lantunan doa kepada almarhumah yang dipimpin oleh KH. Mu’adz Thohir, dihadapan keluarga besar Gus Mus dan tamu undangan Menag menyampaikan rasa bela sungkawanya yang mendalam. Menag berharap agar masyarakat mampu meneladani dan melestarikan ajaran-ajaran dan kebajikan yang dimiliki oleh almarhumah.

“Marilah kita do’akan semoga alhmarhumah diampuni segala salah dan khilafnya, dan diterima segala amal dan kebaikannya. Semoga kita mampu meneladani, menjaga dan memelihara semua ajaran-ajaran dan kebajikan yang beliau telah torehkan, untuk kehidupan kita mendatang,” ungkap Menag.

Tamu undangan nampak khusyu’ mengamini doa yang dipanjatkan oleh KH. Maemun Zubair. Setelah mendapat banyak wejangan dari Mbah Mun dan Gus Mus, Menag bertolak menuju Jakarta dengan rencana penerbangan pukul 22.00 WIB.

Kesederhanaan

Acara berlangsung sangat sederhana, hidangan dengan menu ala santri, yaitu nasi rames dan teh hangat tersebut mampu mencairkan suasana malam itu. Trisna Willy Saifuddin secara khusus menyampaikan bela sungkawa kepada putri sulung Gus Mus, Ienas Tsuroya.

Sementara menemui tamu undangannya, tak ada sedikitpun kesedihan yang diperlihatkan oleh Gus Mus. Menurut Ienas, Gus Mus menunjukkan ketegaran yang luar biasa. “Tamu-tamunya datang untuk menghibur abah. Namun justeru abah yang menghibur tamu-tamunya dengan candaannya. Memang ada kala abah berdiam diri di kamar persis setelah ibu dimakamkan. Mungkin saat itulah abah bersedih, “ aku Ienas.

Salah satu sahabat almarhumah, Ny. Aryo dari Surabaya mengaku sudah dua hari berada di Rembang. Beserta keluarga, mereka datang khusus untuk bertakziyah. Ny Aryo menyebutkan, almarhumah merupakan sosok yang memiliki karakter keibuan yang sangat kuat. “Beliau itu sahabat saya, tapi juga sudah seperti ibu saya. Setiap kali ke Surabaya atau melewati Surabaya, beliau selalu mampir ke rumah saya. Rasanya tidak percaya ketika satu jam setelah kejadian, saya mendapat kabar beliau sudah wafat,” kenang Ny. Aryo.—(Shofatus Shodiqoh/gt)