Romo Rukmono, Orang Katolik Harus Menjadi Pelayan

Cilacap – Perayaan Kamis Putih di Kapel De Mazenod Cilacap, (13/4) berlangsung hidmad. Prosesi sakral dalam kebaktian Kamis Putih yang dilaksanakan, pukul 18.00 sebelum Jumat Agung itu dipimpin Romo Rukmono.

Dalam khotbahnya ditegaskan, bahwa orang Katolik harus menjadi pelayan. Tidak peduli siapapun dia, baik pangkat atau kedudukan maupun banyaknya harta yang dimiliki serta statusnya. Hal ini sebagaimana dilakukan Tuhan Yesus melayani murid-muridnya dengan membasuh kaki mereka.

Selama tiga hari umat Katolik merayakan Tri Hari Suci Paskah yang artinya tiga hari suci, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah.

Perayaan Kamis Putih merupakan peringatan akan perjamuan malam terakhir Yesus bersama 12 rasul-Nya. Dalam perayaan ini ada tiga misteri iman yang dirayakan, salah satunya adalah cinta kasih. Pada peringatan ini manusia disadarkan akan perintah yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya, yaitu saling mengasihi.

Dalam perayaan tersebut umat Nasrani merayakan karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam peristiwa perjamuan malam terakhir, wafat, pemakaman, dan kebangkitan Kristus.

Kekhususan Ibadah Kamis Putih adalah umat merayakan dua peristiwa utama menjelang Yesus Kristus disalibkan. Perjamuan malam terakhir yang dilakukan Tuhan Yesus bersama para murid-Nya. Peristiwa perjamuan malam terakhir ini merupakan dasar penetapan dan penyelenggaraan Sakramen Perjamuan Kudus.

“Tuhan Yesus mencuci kaki para murid-Nya sebagai tindakan kasih Allah yang berkenan merendahkan diri, memberikan diri dan melayani umat. Yesus yang adalah Tuhan dan Guru berkenan merendahkan diri-Nya, maka umat dipanggil untuk saling merendahkan dirinya,” ujar Romo Rukmono.

Dia menambahkan, pencucian kaki merupakan elemen ibadah Kamis Putih, sebab Tuhan Yesus menyatakan, “ Kamupun wajib saling membasuh kakimu.” 

Makna rohani dari perintah Tuhan Yesus tersebut perlu disikapi secara tepat agar tidak hanya merupakan tindakan ritualistik. Sebab sikap ritualistik saja akan menimbulkan kemunafikan atau sikap pura-pura dan palsu. (On/bd)