Sahur dan Sholat Subuh Bersama Jajaran Kankemenag

Pemalang – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pemalang bersama jajarannya Selasa fajar ini (6/6) melaksanakan sahur bersama di rumah Penghulu KUA Kecamatan Warungpring, Ariful Umam yang terletak di desa Kejene, Kecamatan Randudongkal.

Kegiatan sahur bersama telah dilaksanakan sejak Ramadhan tahun 2015. Sahur bersama di rumah ASN Kemenag dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antara ASN Kemenag dengan tuan rumah. Sahur juga dihadiri oleh Kepala KUA dan jajarannya, perwakilan Polsek dan Koramil Kecamatan Randudongkal.

Acara dilanjutkan dengan sholat Subuh bersama masyarakat Desa Kejene di Masjid Asshidqo Dukuh Ciremai Desa Kejene. Seusai sholat, Kepala Kankemenag Taufik Rahman memberikan pembinaan kepada jamaah. Dia mengajak masyarakat untuk membekali anak-anak dengan pendidikan.

Menurut penuturan Takmir masjid dalam sambutannya, sejak tahun 1967 di Desa Kejene sudah ada madrasah wajib belajar sebagai cikal bakal berdirinya Madrasah Ibtidaiyah. Taufik menyebutkan pendidikan sebagai sarana untuk mencari ilmu. Sebagai orang tua harus menata pendidikan anak. Bukan hanya pendidikan formal saja, namun juga pendidikan agama, madrasah diniyah, TPQ.

“Anak-anak harus diberi bekal pendidikan agar mereka siap menyongsong masa depan. Agar akhlak anak kita baik, ikutkan anak kita sekolah di madrasah, madrasah diniyah, TPQ, maupun pondok pesantren. Namun yang utama adalah uswatun hasanah dari orang tua,” tutur Taufik.

Selanjutnya dia mengajak umat Islam untuk bersama-sama menjaga perdamaian di Indonesia. Sebagai umat Islam dan umat Nabi Muhammad SAW harus mencerminkan sikap Islam yang rahmatan lil’alamin.

Indonesia adalah negara yang berbhinneka tunggal ika, berdasarkan Pancasila. Ada enam agama yang diakui diakui di Indonesia. Negara Indonesia tidak bisa dipaksakan untuk menjadi negara yang berdasarkan satu agama.

“Para ulama terdahulu turut berjuang mendirikan Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Mari kita teruskan perjuangan mereka dengan turut menjaga persatuan, perdamaia di Indonesia. Kita harus bersyukur bangsa Indonesia bisa melaksanakan ibadah dengan ketenangan, kedamaian. Hal ini berbanding terbalik dengan kondisi umat Islam di negara-negara konflik,” jelasnya.

Taufik menuturkan, semua agama pada prinsipnya mengajarkan kedamaian. Apabila ada yang anarkis itu adalah oknum tertentu. Oleh karena itu, Taufik meminta kepada para kyai, ulama, penyuluh untuk memberikan tausiyah yang menyejukkan, penuh kedamaian bagi umat.

“Mari kita jaga nama baik agama Islam. Umat Islam harus saling menghormati, toleransi, menjaga perdamaian di Indonesia. Kita lestarikan budaya Islam di Indonesia. Tidak perlu mengikuti gaya busana negara lain, kita harus bangga pakai pecis, pakai sarung,” ajaknya.

Sebelum berakhirnya acara, Taufik menyerahkan bantuan untuk Masjid Asshidqo dan masyarakat Kecamatan Randudongkal. Bantuan yang diserahkan berupa uang senilai Rp10 juta dan 10 mushaf Al-Qur’an. Masjid Asshidqo menerima bantuan senilai Rp2 juta, sedangkan 32 orang mustahik masing-masing menerima bantuan Rp250 ribu. Sementara 10 mushaf Al-Qur’an diberikan kepada masjid dan mushola di Desa Kejene. (fi/rf)