SDM Berkurang, Tanggung Jawab Guru Agama Katolik Semakin Berat

Mungkid – Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Paulinus Sulardi, menyampaikan keprihatinannya terhadap berkurangnya Guru Agama Katolik di Jawa Tengah. Sesuai data tahun 2017, Sulardi menyampaikan bahwa saat ini di Jawa Tengah keberadaan Guru Agama Katolik semakin berkurang, padahal tantangan tentang pengajaran etika dan budi pekerti semakin dibutuhkan.

Sulardi menyampaikan keprihatinannya  kepada peserta kegiatan Peningkatan Kompetensi Guru Agama Katolik Kabupaten Magelang, Kamis (08/03/2018) di Hotel Trio Magelang. Sebanyak 29 Guru Agama Katolik pada SD, SMP, SMA/SMK di Kabupaten Magelang mengikuti kegiatan tersebut.

“Jawa Tengah berada di urutan ketiga untuk jumlah guru dan anggarannya. Klaten, Guru Agama Katolik terbanyak, pada tahun 2019 hanya akan tersisa 25 guru. Menjadi keprihatinan pemerintah karena guru agama terbatas, banyak siswa yang tidak terlayani pendidikannya,” paparnya.

Sulardi menyampaikan bahwa berkurangnya Guru Agama Katolik adalah karena banyak guru-guru Inpres yang pensiun. Karena minimnya guru, kadang proses kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di gereja  karena di sekolah tidak terlayani.

Untuk mengantisipasi kekurangan Guru Agama Katolik tersebut, Sulardi menyampaikan agar dilakukan pendataan guru.

“Harapan kami untuk mengangkat tenaga admin, guru, pengawas dan penyuluh PNS untuk antisipasi moratorium,” katanya.

Kepada para guru, Sulardi mengharapkan para Guru Agama Katolik dapat melakukan penguatan nilai-nilai karakter dalam Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti. Menurut Sulardi, ada dua kondisi yang harus diperhatikan yaitu: adanya kemerosotan/demoralisasi diberbagai sektor kehidupan dan dampak negatif kemajuan teknologi informasi.

Guru Agama Katolik harus menyiapkan generasi muda ke depan melalui pendidikan agama dan budi pekerti. Nilai pendidikan karakter diharapkan dapat membekali  para peserta didik memiliki kemampuan untuk membangun hidup yang semakin beriman Kristiani. Artinya membangun kesetiaan pada Injil Yesus Kristus, yang memiliki keprihatinan tunggal, yakni Kerajaan Allah. Kerajaan Allah merupakan situasi dan peristiwa penyelamatan, situasi dan perjuangan untuk perdamaian dan keadilan, kebahagiaan dan kesejahteraan, persaudaraan dan kesetiaan, pelestarian lingkungan hidup yang dirindukan oleh setiap orang. (tika/am/BD)