Warisan Ulama, Kerukunan Desa Soditan Patut Diteladani

Rembang – Desa Soditan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang yang ditetapkan sebagai desa Sadar Kerukunan tingkat Jawa Tengah tahun 2021 adalah minatur Indonesia. Di desa yang terletak di pusat kota Lasem ini terdiri atas enam pemeluk agama dan lima macam tempat ibadah.

Atas keberagaman di Desa Soditan ini, Kepala Kankemenag Kabupaten Rembang, M. Fatah mengatakan, kerukunan umat beragama di desa ini harus dijaga. Sebagaimana yang diteladankan oleh ulama-ulama besar terdahulu, yang kebetulan dari Desa Soditan ini.

Sebut saja KH Ma’shoem (Mbah Ma’shoem) dan KH Cholil yang merupakan pendiri Nahdlatul Ulama. Ada pula almarhum KH Masduqi yang terkenal kealimannya. Hingga kini pula masih ada tokoh-tokoh agama nasional seperti KH Abdul Qoyyum Manshur (cicit KH Cholil) dan KH Zaim Ahmad (cicit Mbah Ma’shoem).

“Berdasarkan testimoni dari keluarga keturunan beliau-beliau, Mbah Ma’shoem memberikan teladan yang baik bagaimana menjaga keharmonisan terhadap tetangga yang lain agama dan lain ras. Budaya ini harus kita teladani. Tidak hanya untuk warga Desa Soditan, namun segenap warga Rembang,” tutur Fatah.

Menurut Fatah, keberagaman di Indonesia adalah sunnatullah. “Bangsa ini memang diciptakan beragam. Multi agama dan multikultural ini harus kita sikapi dengan sikap saling menghargai dan saling menjaga . Kalau kita terpeleset sedikit saja, maka bisa menjadi kekacauan dan akan berpengaruh terhadap kehidupan anak cucu kita,” papar Fatah.

Fatah mengapresiasi upaya FKUB dalam berikhtiar menjaga harmonisasi sebagai modal untuk melaksanakan pembangunan nasional. Menurut Fatah, pembangunan bisa diselenggarakan jika kondisi bangsa rukun dan damai. “Ketika Indonesia harmonis, rukun dan damai, maka pembangunan akan bisa dilaksanakan dengan lancar,” pungkasnya. – iq