Makna Basmallah dalam Kehidupan

Sukoharjo – Pagi ini Selasa 11 Januari tahun 2022, bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo, Kembali diselenggarakan Pembinaan Mental (Bintal) bagi pegawai. Dengan tetap memperhatikan protokol Kesehatan, para pegawai di lingkungan Kankemenag Kabupaten Sukoharjo mengikuti dengan baik pembinaan mental yang diampu oleh Satuan Kerja Bimbingan Masyarakat Islam.

Pembinaan mental merupakan kegiatan yang rutin diselenggarakan sejak lama di lingkungan Kankemenag Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan ini dijadwalkan setiap hari Selasa minggu kedua dan keempat dalam setiap bulannya. Dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan 08.30 wib. Sehingga kegiatan tidak sampai mengganggu pelayanan kantor dan tugas dari masing-masing pegawai. Kegiatan Pembinaan Mental ini sempat terhenti pada masa pandemi covid-19.

Pembinaan Mental ini diisi dengan kegiatan sebagaimana majelis ta’lim, yaitu mendengarkan tausiyah, pengajian dari para pemateri yang berasal dari Kankemenag Kabupaten Sukoharjo sendiri, yang memiliki kemampuan dalam bidang ilmu keislaman. Narasumber atau pemateri Bintal terdiri dari jajaran Kasi/Penyelenggara, Penyuluh Agama Islam dan pegawai lain di lingkungan Kankemenag Kabupaten Sukoharjo.

Narasumber atau pemateri pada pertemuan pertama Pembinaan Mental kali ini adalah, Imam Waladi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kankemenag Kabupaten Sukoharjo. Dalam kesempatan ini Imam Waladi menyampaikan pentingnya memahami makna “Basmallah” atau ucapan “Bismillahirrahmanirrahim” dalam kehidupan sehari-hari, sebagai ucapan yang sudah lazim dilafadzkan oleh kebanyakan umat Islam dalam kesehariannya.

Pada kesempatan Bintal ini, Imam Waladi menerangkan bahwa kalimat basmallah juga disinggung di dalam al-Qur’an, yaitu pada surat an-Naml ayat 30; “Innahuu min Sulaimaana wa innahuu bismil laahir Rahmaanir Rahiim”, yang artinya; “Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Imam Waladi juga menjelaskan pentingnya meresapi makna basmallah dengan cara tidak menganggapnya sekedar kalimat yang diucapkan begitu saja. Sebab ketika seseorang mengucapkannya, sesungguhnya ia sedang menyebut salah satu dari nama-nama agung Tuhan-nya, yaitu Allah Swt. Ada kandungan makna yang agung di dalamnya.

Kandungan penting basmallah, dan tuntunan untuk mengawali setiap perbuatan dengan mengucap basmallah adalah, bahwa setiap apa saja yang kita lakukan kemudian dapat selesai dengan baik dan sempurna, tidak pernah lepas dari ketentuan Allah swt. Selain itu Imam Waladi juga menjelaskan bahwa basmallah ada kaitannya dengan fitrah tauhid atau kesadaran manusia untuk manembah, yaitu menyandarkan diri kepada dzat yang tidak ada bandingannya, yaitu Allah swt. sebagai penyebab utama.

Imam Waladi juga menyinggung tentang pandangan Hujjatul Islam Imam al Ghozali tentang adanya dua kategori syirik, yaitu Syirik Jali dan Syirik Khafi. Dijelaskan syirik khafi adalah syirik yang samar, yang halus, yang kerap menjangkiti umat Islam. Syirik ini berbeda dengan perbuatan syirik Jali, yang terang-terangan, seperti menyembah selain Allah swt. Syirik Khafi seringkali menyusup, membelokkan niat kita, dari niat lillahi ta’ala, yaitu melakukan perbuatan hanya ditujukan kepada Allah swt. sebagai Sang Khalik, berubah menjadi bertujuan atau berorientasi kepada makhluk-Nya. Dari tujuan kepada Sang Pencipta, menjadi bertujuan kepada yang diciptakan. Sebagian diantara ciptaan adalah mengharap syurga, atau takut kepada neraka.

Kajian yang disampaikan oleh Imam Waladi lazim dikaji dalam kelas-kelas pelajaran ilmu tasawuf. Ilmu yang mengkaji tidak hanya tentang syarat dan rukun ibadah, namun juga tentang riyadhah atau munajat untuk menata hati, agar dijauhkan dari sifat tidak baik, seperti riya’, pamrih, pamer dan takabur.

Pada pertemuan itu, Imam Waladi juga menjelaskan tentang dua sifat Allah swt. yang ada di dalam basmallah, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat penyayang dan pengasih Allah swt. ini disebut sebagai sifat yang menjamin curahan rahmat kepada seluruh alam raya. Sehingga bagi setiap umat Islam, tidak perlu khawatir terlebih takut tidak mendapat jatah rizki.

Imam Waladi juga menyinggung tentang pentingnya mengkaji Kitab Al Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari. Syekh Ibnu athaillah merupakan guru sufi besar, dari jalur tarekat Syadziliyah yang lahir pada 648 H/1250 M, dan meninggal di Kairo pada 1309 M, berasal dari daerah Iskandariah atau Alexandria Mesir. Kitab al Hikam menjadi kitab rujukan bagi banyak umat Islam untuk mendalami ilmu penyucian hati.

Bintal hari ini ditutup dengan pembinaan dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sukoharjo, Muh. Muallim, tentang perlunya menjiwai makna dari ucapan basmallah dalam segala aktifitas  atau pekerjaan kantor sehari-hari. Kepala Kantor juga menyampaikan pentingnya bagi setiap pegawai untuk meningkatkan rasa syukur kehadirat Allah swt. atas kondisi yang ada saat ini sebagai pegawai, sebagai aparatur sipil negara.

Dari rasa menjiwai ini, dan rasa syukur atas keadaan baik yang ada di dalam kehidupan ini dibuktikan dengan peningkatan kinerja dan integritas setiap Pegawai aparatur sipil negara di lingkungan Kankemenag Kabupaten Sukoharjo. Dengan peningkatan kinerja dan integritas ini tentu akan berdampak baik bagi meningkatnya pelayanan Kementerian Agama untuk masyarakat. (bss/djp/rf)