Dari Kekerasan Menuju Perdamaian

Mungkid – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang, selenggarkan kajian ramadhan Ngaji Moderasi Inspirasi Untuk Negeri pada hari Jum’at,(22/04/2022) di Gedung Serba Guna Kementerian Agama Kabupaten Magelang. Hadir sebagai pengisi acara Choirul Ihwan, seorang Da’i Napiter (narapidana teroris).

Kepala Kemenag Kabupaten Magelang, Panut dalam pembukaan acara menyampaikan ajakan refleksi diri. “Ramadhan sudah sampai pada hari ke 20, mari refleksi diri apakah sudah benar dalam menjalankan puasa, pengendalian marah, ghibah dan sikap, yang tidak kalah penting yaitu refleksi dan revisi terhadap pekerjaan-pekerjaan dalam setahun,” ucapnya.

Terkait dengan pengendalian diri, “Puasa merupakan latihan kita dalam pengendalian diri, termasuk pengendalian diri dari kekerasan baik fisik maupun psikis. Kokohkan dalam menjalankan agama dan jangan samai masuk ke kelompok radikal,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Choirul berbagi pengalamannya tersesat dalam kelompok radikal. Beliau menjelaskan awal ketertarikannya terhadap kelompok ekstrem, “Beberapa faktor yang meyebabkan saya tertarik dan masuk ke kelompok ekstrem diantaranya, faktor pertemanan, bahan bacaan, kurangnya perhatian dan kasih sayang keluarga, kehangatan dan persaudaraan dalam komunitas serta semangat keislaman yang tinggi,” tutur Choirul.

Dalam perjalanannya, Beliau menggunakan faham jihad yang ingin menguasai Negara dan menjadikan Negara Indonesia menjadi Negara Islam serta mengkafirkan semua orang yang tidak sepaham. Ajarannya diawali dari keluarga, “saya memberikan doktrin kepada keluarga, jika ada yang ikut memilih presiden termasuk kafir. Saya juga mengkafirkan kegiatan pembayaran pajak dan pembuatan KTP,” ungkap Choirul.

Rekrutmen masuk ke dalam kelompok ekstrem tersebut dilakukan melalui facebook. “Setelah melalui perkenalan di facebook kemudian diajak ikut kajian dan di baiat,” tuturnya. Awal beliau tertangkap pada tahun 2011 sampai 2017, karena merekrut orang Malaysia dan melakukan beberapa tindakan radikal.

Pada tahun 2011, Choirul mencapai posisi titik balik keyakinan ketika mendapatkan firasat tentang meninggalnya ibunda. Tauhid yang diyakini berpisah dari yang kafir termasuk ibu yang sudah dikafirkan merupakan hal yang wajar bahkan harus. Beliau merasakan berbeda dengan kata hati.

“Saya mulai merasakan antara kata hati dan otak berbeda. Saya mulai berfikir kritis dan mencari kebenaran. Dikuatkan dengan bertemu beberapa korban Bom, dan beruntung saya berasal dari Islam moderat sehingga lebih mudah bagi saya keluar dari kelompok ekstrem,” ungkapnya.

Choirul berpesan “Selalu berfikir positif, berhati-hati dalam pertemanan media sosial, lebih peduli terhadap kedamaian Indonesia”.

Closing statemen disampaikan oleh Kasubag TU Kemenag Kabupaten Magelang, Khoironi Hadi. “Yang bisa diambil hikmah dan positifnya, semangat tinggi dan semangat belajar yang gigih, nilai ubudiyah dimana sanggup melaksanakan jamaah, puasa, tahajud sebagai amaliyah yang luar biasa, Jihad harta dan semua yang dimiliki untuk kepentingan akhirat,” tutur Khoironi Hadi.(fs/Sua)