Ciri Khas Kurikulum RA Terletak Pada Integrasi PAI Dalam Aspek Perkembangan.

Semarang –Koordinator pelaksana Kurikulum PAUD Kemendikbud, Mareta mengatakan, profil pelajar adalah bentuk komitmen pemerintah tentang generasi masa depan seperti apa yang ingin dibangun oleh sistem pendidikan nasional. Inti pelajar Idonesia yang ingin dibangun adalah, berahlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif gotong royong, dan berkebinekaan global.

Pernyataan Mareta tersebut disampaikan dalam paparan materinya saat menjadi narasumber tunggal pada acara penyusunan regulasi pembelajaran madrasah/RA (Angkatan 2) di Hotel Harper, Yogyakarta, Rabu (28/4/21).

Penyusunan regulasi yang digelar direktorat KSKK selama tiga (3) hari, 28 s.d 30 April 2021 itu membahas review KMA Nomor 792 Tahun 2018 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum RA, terkait dengan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) dan penyusunan draf Kurikulum Darurat RA.

Menurut Mareta, spirit yang dibangun oleh regulasi KMA 792 Tahun 2018, pada dasarnya sama dengan komitmen pemerintah tentang generasi masa depan Indonesia. Ciri khas dan perbedaannya terletak pada integrasi PAI dalam aspek perkembangan.

Dalam paparan bertajuk “Penyusunan Kurikulum Raudhatul Athfal”, Mareta menuturkan, pada kurikulum merdeka belajar tidak mencantumkan 6 aspek perkembangan, dikurangi aspek Seni dalam PP 57, karena seni merupakan  muatan materi yang terintegrasi pada semua aspek perkembangan.

“Rujukan di semua dunia, seni tidak masuk aspek perkembangan anak tersendiri,” tandas Mareta.

Dicontohkannya, ketika guru mengenalkan Alloh SWT pada anak RA, bisa dengan lagu. Kompetensi Dasar (KD) dalam Nilai Agama dan Moral (NAM) berubah menjadi capaian pembelajaran (CP), sangat bermanfaat bagi guru yang tidak hafal KD.

“Kenalkan anak kita dengan kebinekaan global namun tetap berahlak mulia,” tambahnya.

Prinsip pembelajaran dan asesemen diserahkan pada sekolah, pemerintah hanya menyampaikan prinsip saja, termasuk pembelajaran pada masa darurat. Terkait penilaian apakah menggunakan observasi, cek lis, hasil karya diserahkan pada sekolah. Misalnya, ketika materi tentang “Tomat”, guru bisa menstimulasi anak terkait bagaimana tumbuh tomat, bagaimana mengolahnya, bikin jus tomat. Jadi ada hasil karyanya.

“Prinsip asesemen adalah anak tidak dites dan guru selalu memotret anak (learning stories) dengan pemngamatan, memvideokan, dan menuangkan dalan bentuk cerita.

Sementara itu, pengawas Kemenag Kota Semarang, Amhal Kaefahmi menuturkan, teknik pengumpulan data pada masa darurat cukup hasil karya anak dan video atau dokumen lain yang menggambarkan kegiatan anak. Hasil catatan dan dokumentasi yang dikumpulkan selanjutnya dianalisis untuk membuat keputusan penilaian. (Amhal Kaefahmi/bd)