Enjoy : Resep Menjadi Guru RA

Rembang (19/4) – Di dunia pendidikan anak usia dini, jarang kita jumpai pengajar laki-laki. Perempuan dipandang lebih cocok menjadi guru PAUD dibandingkan pria, karena sikap yang lebih telaten.

Namun hal itu tak berlaku bagi Mulyatim (34), Kepala RA Nahjatul Qowin, Kecamatan Kragan. Bagi Mulyatim, pandangan tersebut hanyalah stereotip belaka. Mulyatim berpendapat, pria pun cocok menjadi guru RA, bahkan mempunyai kelebihan tersendiri.

Mulyatim mengaku, setiap pagi masuk kelas, dia selalu disambut ceria oleh peserta didiknya. “Walaupun ada guru perempuan, mereka memilih menghampiri saya terlebih dahulu,” ujarnya diketika diwawancara di sela Workshop guru RA, Selasa (18/4).

Hal itu pantas saja, lantara pria kelahiran 2 Mei 1983 ini sangat menyenangi dunia anak-anak. “Bagi saya, anak-anak adalah dunia yang menyenangkan. Sehingga, kita harus membuat kreativitas mengajar yang membuat anak-anak senang,” katanya.

Kreativitas tersebut antara lain dengan sering menyuguhkan cerita kepada anak-anak. Sesekali, dia juga memantik anak untuk turut bisa bercerita. Sehingga, yang terjadi adalah komunikasi dua arah. “Dialog itu ternyata efektif untuk pembelajaran anak-anak RA,” katanya.

Pionir

Mulyatim ini memulai karirnya sebagai guru RA sejak tahun 2005. Pria yang dulunya berlatar belakang pendidikan program diploma II pendidikan Agama Islam ini mengaku terdorong mendirikan RA atas anjuran pamannya. “Dulu ada satu gedung untuk TPQ. Memandang banyaknya anak-anak yang mengaji, lantas paman saya menyarankan untuk mendirikan RA, sekaligus madrasah diniyyah,” kenangnya.

Berbekal ketekunan, Mulyatim lantas mengajak rekan-rekannya untuk mengembangkan RA. Tak hanya mencari murid, namun juga meningkatkan kualitas guru dengan kembali bersekolah menempuh pendidikan sarjana PAUD.

Langkah Mulyatim ini lantas diikuti oleh beberapa rekan laki-laki yang berkeinginan menjadi guru RA. “Alhamdulillah, sekarang ada beberapa rekan yang menjadi guru RA juga,” ujarnya.

Mulyatim berharap mendapat bantuan tambahan fasilitas dari pemerintah. Menurutnya, sarana alat mengajar, yaitu alat peraga edukatif masih belum mencukupi.(ss/bd)