Jaga Keberagaman dan Saling Memaafkan Wujudkan Moderasi Beragama

Semarang (Humas) – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi antar anggota DWP Kementerian Agama RI maka dilaksanakanlah Acara Halal Bi Halal Nasional 1442 H DWP Kementerian Agama RI dengan tema “Mempererat Silaturahmi dalam Kebersamaan dan Keberagaman” yang dilaksanakan pada Senin (7/5) secara daring melalui platform Zoom. DWP Kanwil Kemenag Prov. Jateng turut mengikuti rangkaian acara Halal Bi Halal Nasional 1442 H DWP Kementerian Agama RI secara daring di ruang teleconference lt. 3. 

Tampak hadir Linda Damayanti selaku Ketua DWP Kanwil Kemenag Prov. Jateng dan beberapa anggota DWP lainnya. Acara dibuka dengan Laporan Ketua DWP Kemenag RI, Ibu Farikhah Nizar Ali dan sambutan serta pengarahan oleh Penasehat DWP Kemenag RI, Ibu Eny Yaqut Cholil.

“Hampir selama 6 bulan kita bersinergi bersama dalam DWP Kementerian Agama RI, pasti ada khilaf, maupun tutur perilaku kami yang salah, saya secara pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, mohon maaf lahir dan batin,” ucap Eny.

“Salah satu kebijakan dan program unggulan Kementerian Agama yang paling krusial adalah Penguatan Moderasi Beragama, argumen ini bersumber pada fakta bahwa masyarakat Indonesia sangat plural multikultural baik suku, etnis, agama, bahasa, budaya dan secara geografis adalah negara kepulauan terbesar, sehingga secara sosio politik Indonesia memiliki landasan yang kuat dalam mengembangkan program-program strategis Moderasi Beragama dalam kerukunan umat beragama dalam konteks keindonesiaan,” imbuhnya.

Ibu Eny Yaqut Cholil memaparkan bahwa ini adalah tugas kita semua untuk bisa menjaga keberagaman yang ada, bersama-sama untuk bisa menjalankan program prioritas Penguatan Moderasi Beragama.

Rangkaian acara halal bihalal dilanjutkan dengan ceramah yang diberikan oleh KH Bahauddin Nursalim atau yang akrab dipanggil Gus Baha. Beliau menjelaskan tentang cara hidup berdampingan dengan agama lain.

“Jadi saling memaafkan adalah kunci dalam bersosialisasi dengan semua orang, seluruh warga Indonesia,” tutur Gus Baha.

“Dalam Kitab As Syifa yang menerangkan tentang kelebihan-kelebihan Rasulullah SAW, di dalamnya tertulis bahwa sifat dasar nabi adalah pemaaf, suatu ketika nabi mengalami luka yang disebabkan oleh musuh-musuhnya. Ada yang memberi saran kepada nabi untuk melaknat mereka yang memberi luka dan biadab kepada nabi, namun nabi menjawab bahwa dirinya tidak ditugaskan Allah untuk menjadi tukang laknat tetapi saya diutus untuk berdakwah yang baik dan menjadi rahmat. Ya Allah berilah hidayah karena perilakunya yang demikian karena ketidaktahuan” imbuhnya.

Hal inilah yang menjadi pelajaran bagi kita semua, ketika kita mendapat luka, sakit hati, atau perilaku kurang baik dari sesama kita mungkin karena ketidaktahuan mereka. Maka dari itu perilaku kebaikan kepada sesama, kita atas namakan Allah sehingga apabila kita mendapat luka bisa dengan mudah memaafkan. (pqq)