Jagong Ramadhan, Kemenag Pati Ungkap Alur Pergerakan Jamaah Jika Haji 1442 H Digelar di Masa Pandemi

Pati – Kementerian Agama telah menyusun alur pergerakan jamaah, jika ada pemberangkatan haji 1442 H/2021 M. Alur pergerakan tersebut dirumuskan sebagai bagian dari mitigasi penyelenggaraan haji yang telah disiapkan pemerintah.

“Sampai hari ini kita belum memiliki kepastian pemberangkatan jamaah haji. Tapi kita terus berharap agar kita dapat memberangkatkan jamaah haji. Karenanya kami terus mempersiapkan berbagai skenario serta mitigasinya, termasuk alur pergerakan jamaah, jika ada pemberangkatan. Penyelenggaraan haji di masa pandemi memerlukan beberapa penyesuaian. Terutama karena diberlakukannya protokol kesehatan,” ungkap Kasi penyelenggara haji dan umroh (PHU) Kemenag Pati, Abdul Hamid dalam Jagong Ramadhan Kemenag Pati dengan tema Up date informasi penyelenggaraan haji 1442H, yang digelar secara virtual via Zoom Meeting, Kamis (6/5/2021).

Menurut Hamid, alur pergerakan jamaah disusun dengan tujuan untuk memastikan keselamatan dan keamanan jamaah, bila pemberangkatan haji dilakukan. “Alur pergerakan ini meliputi delapan tahapan yang harus dilalui jamaah selama melaksanakan ibadah haji,” jelas Hamid.

Pertama, jamaah haji wajib divaksin. Sebelum melaksanakan proses rangkaian ibadah haji, setiap jemaah haji wajib menjalankan dua vaksinasi. Yaitu, vaksinasi Covid-19 dan meningitis. “Untuk vaksinasi Covid-19, saya memastikan seluruh jamaah haji kab. Pati yang akan berangkat sudah divaksin. Apalagi saat ini, Kemenkes telah menetapkan jamaah haji sebagai kelompok rentan sehingga bisa mendapat prioritas penerima vaksin Covid-19,” lanjutnya.

Kedua, Karantina Asrama Haji. Selama berada di asrama haji, jamaah haji menjalani karantina selama 3 x 24 jam. “Saat tiba di asrama haji, jamaah akan menjalani swab antigen,” jelas Hamid.

Pada hari ketiga, dilakukan tes PCR Swab kembali bagi jamaah. Jika hasilnya negatif, jamaah haji berangkat ke Arab Saudi. Jika hasilnya positif, akan dilakukan isolasi mandiri di asrama haji. Tahap ketiga, Karantina Hotel di Makkah. “Karena kita kemungkinan memberangkatkan hanya sedikit jamaah, maka semuanya nanti akan turun di Jeddah,” jelas Hamid.

Selanjutnya, di Makkah, jamaah haji dikarantina selama 3 x 24 jam di hotel dengan kapasitas maksimal dua orang per kamar. “Setelah dikarantina selama 3 x 24 jam, jamaah haji akan tes PCR Swab kembali. Jika hasilnya negatif, pada hari ke-4 jamaah bisa melaksanakan umrah. Jika hasilnya positif, akan dilakukan isolasi mandiri pada hotel di Makkah,” ujar Hamid.

Keempat, Miqat dengan protokol kesehatan. Jamaah haji yang akan melaksanakan umrah wajib diberangkatkan dengan menggunakan bus menuju tempat miqat dengan mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan Pemerintah Saudi.

Kelima, umrah wajib dan thawaf ifadlah. Selama di Makkah, selain umrah wajib dan thawaf Ifadhah di Masjidil Haram, jamaah diberikan kesempatan ke Masjidil sebanyak 3 kali dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Ini juga kita akan betul-betul perhatikan, karena saat ini memasuki Masjidil Haram juga perlu memperhatikan ketentuan yang ditetapkan. Sementara pergerakan jamaah saat puncak ibadah haji akan menyesuaikan dengan ketentuan di Arab Saudi,” imbuhnya.

Keenam, Jamaah di Madinah. Selesai melakukan seluruh proses haji di Makkah, jamaah akan diberangkatkan ke Madinah. Tiba di madinah, jamaah ditempatkan pada hotel-hotel yang telah ditentukan dengan komposisi satu kamar maksimum ditempati dua orang. Jamaah akan tinggal di Madinah selama tiga hari, sehingga tidak ada pelaksanaan shalat Arbain. “Skenario yang kami susun, kalau ada pemberangkatan jamaah haji, tidak akan ada arbain. Karena di Madinah hanya tiga hari. Ini perlu diberikan penjelasan kepada jamaah kita,” jelas Hamid.

Ketujuh, PCR Swab sebelum pulang ke Tanah Air. Pada hari ke-4, jamaah haji akan dipulangkan ke Tanah Air melalui bandara Madinah. “Sebelum jamaah haji dipulangkan ke Tanah Air, akan dilakukan kembali tes PCR Swab. Jika hasilnya negatif, jamaah haji dipulangkan ke Tanah Air. Jika hasilnya positif, akan dilakukan isolasi mandiri pada hotel di Madinah,” kata Hamid.

Kedelapan, sebagai tahapan terakhir adalah swab antigen setibanya di Tanah Air. Setibanya di tanah air, dilakukan tes Swab Antigen bagi jamaah haji. Tes swab Antigen akan dilakukan di Asrama Haji. Jika hasilnya negatif, jamaah haji dipulangkan ke daerah masing-masing dan melakukan karantina mandiri di rumah. Jika hasilnya positif, akan dilakukan isolasi mandiri di asrama haji. “Kesimpulannya, selama proses penyelenggaraan haji, jamaah dan petugas wajib menerapkan protokol kesehatan. Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta membatasi interaksi dan mobilitas,” tegas Hamid.

Di akhir acara jagong ramadhan ini, dibuka beberapa termin pertanyaan dari peserta kepada nara sumber terkait hal seputar haji 1442 H.

Ditemui Humas usai acara, Kepala Kankemenag Kab. Pati Ali Arifin berharap melalui jagong ramadhan ini diharapkan masyarakat khususnya masyarakat Kab. Pati mengetahui informasi penyelenggaraan haji 2021 ter up date dan tidak termakan isu menyesatkan soal ibadah haji 2021.

Didapuk juga sebagai nara sumber, Ali Arifin meminta calon jemaah haji Kab. Pati 2021 mulai menata hati untuk menerima apa pun keputusan pemerintah terkait ibadah haji 2021. Hingga saat ini, belum ada kepastian dari pemerintah Arab Saudi terkait pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.

“Para calon jemaah haji harus sudah mulai menata hatinya untuk menerima apa pun keputusan yang nanti diucapkan oleh pemerintah, termasuk keputusan yang paling pahit sekalipun, yaitu misalnya tidak memberangkatkan haji tahun ini,” ujarnya. (at)