Kakanwil : Tingkatkan kualitas kinerja dengan prinsip sinergitas

Boyolali – Menjadi suatu inovasi yang sedang hangat, perjalanan Kurikulum 2013 ini pasti tidak akan langsung berjalan secara sempurna. Oleh karena itu, upaya perbaikan yang berkelanjutan dalam pengelolaan kurikulum di madrasah dan praktik pembelajaran di kelas menjadi penting. Kegiatan pengembangan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengimplemantasikan Kurikulum 2013 perlu terus dilakukan, baik yang difasilitasi oleh madrasah, kementerian agama, maupun pemerintah pusat.

Untuk keperluan tersebut, sebanyak 53 orang guru MAN Boyolali 1 pagi ini mengikuti pendampingan Implementasi Kurikulum 2013 di aula madrasah setempat, dihadiri oleh Ahmadi, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Boyolali, Saerozi. Diharapkan oleh Cholid Trenggono, Kepala MAN 1 Boyolali, dengan diadakannya kegiatan ini akan terjadi perubahan pola pikir (mind set) sehingga pada pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

Kakanwil mengingatkan pentingnya kompetensi dalam kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan khususnya pelayanan. Kompetensi dimaksudkan adalah kemampuan dalam bidang tertentu yang dikuasai dengan baik. Kompetensi intinya kecakapan dan pemberdayaan. “Seseorang meskipun cerdas dan pintar tetapi tidak diberdayakan belum dianggap kompeten. Bisa berdaya karena diri sendiri maupun berdaya karena bantuan orang lain,” jelasnya. Lebih lanjut dijelaskan, Indikator kompeten antara lain pengetahuan, ketrampilan, memiliki konsep diri untuk berprestasi, memiliki karakter untuk melakukan tindakan yang baik, dan didukung aspek psikologi (motivasi, attitude, dll.)

Perjalanan implementasi kurikulum 2013 hingga saat ini paling tidak dijumpai 3 persoalan mendasar antara lain : 1) Kurangnya sosialisasi, 2) Kurangnya referensi bahan pembelajaran, 3) Sulitnya perubahan mind set.

Perubahan mindset merupakan faktor pertama yang harus disentuh sebelum sebuah kebijakan diberlakukan. “Guru adalah fasilitator. Guru adalah desainer pembelajaran. Guru harus mendorong peserta didik menjadi lebih kreatif dan mandiri. Peserta didik mampu belajar sendiri”, demikian dijelaskan Ahmadi. Dia mengingatkan pentingnya motivasi dan suasana yang kondusif yang mendukung semangat bekerja. Idealnya guru tidak hanya dan terus berada di satu madrasah tetapi sesekali dilakukan mutasi ke madrasah yang lain. “Ini penting untuk mengatasi kejenuhan dan memperoleh pengalaman baru,” tambahnya.

Dalam upaya peningkatan kinerja menuju pelayanan prima, disampaikan kepada peserta tentang pentingnya penerapan 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama, Integritas, Profesionalitas, Inovasi, Tanggungjawab, dan Keteladanan. Kakanwil mengajak untuk senantiasa meningkatkan kualitas kinerja dengan mengutamakan prinsip sinergitas, saling bekerjasama.

6 pilar pengelolaan madrasah

Usai menyampaikan ceramah di MAN 1 Boyolali, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah melanjutkan perjalanan ke Sragen untuk kegiatan serupa di MAN 2 Sragen dan MAN 1 Sragen didampingi oleh H. Ahmad Nasirin, Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Sragen. Kakanwil menyampaikan bahwa dalam mengelola madrasah tidak terlepas dari 6 pilar: Keindonesiaan, Keilmuan, Keislaman, Kemodernan, Kemandirian, dan Keumatan. 6 pilar tersebut tidak akan berarti tanpa ditunjang dengan 8 standar nasional pendidikan. “Dengan mengkolaborasikan beberapa unsur tersebut, madrasah akan semakin meningkat kualitasnya,” papar Ahmadi.

Menyikapi tentang kompetensi jabatan, Kakanwil mengatakan paling tidak ada 3 jenis kompetensi yang harus dikuasai yaitu kompetensi teknis, kompetensi manajerial, dan kompetensi sosio kultural. Selanjutnya dikatakan, “Jika disandingkan antara standar kompetensi dengan kompetensi yang dimiliki tentu akan terjadi kekurangan-kekurangan. Kekurangan ini lah yang harus ditutupi dan disempurnakan.”

Terkait dengan kurikulum 2013 kakanwil mengatakan tidak ada yang tidak mungkin. Kata kunci untuk keberhasilan implementasi kurikulum 2013 adalah mau atau tidak kita berubah menjadi lebih baik sesuai dengan motto “madrasah lebih baik, lebih baik madrasah”. Dengan penerapan kurikulum 2013 diharapkan siswa menjadi produktif. “Hasil pembelajaran lebih terukur dan bisa diaplikasikan. Untuk itu guru sebagai fasilitator juga dituntut untuk selalu belajar dan belajar untuk meningkatkan kompetensinya,” harap Kakanwil. (fat)