Kepala Kantor Kemenag Kunjungi Masjid Bersejarah An-Nur Di Kecamatan Kandeman

* Kepala Kantor Kemenag Kab. Batang didampingi Kasi Bimas Islam dan Kepala KUA Tulis II sedang bertandang di Masjid An-Nur

Batang – Untuk mengetahui eksistensi Masjid yang dinilai bersejarah oleh masyarakat, Kemenag Kab. Batang melakukan pendataan masjid itu dan melakukan kunjungan. Salah satu masjid itu adalah masjid An Nur di desa Depok Kec. Kandeman selasa ( 7/9), dalam kunjungannya tim dari kemenag di pimpin langsung oleh Kepala Kantor kementerian agama kab. Batang dan melakukan klarifikasi terkait sejarah masjid tersebut.

Kepala Kantor Kemenag Kab. Batang H.M. Aqsho dalam sambutannya menyampaikan melalui pendataan ini diharapkan masjid bersejarah diwilayah Batang  terdokumentasikan dengan baik dan tetap terjaga kelestariannya.

“ Kunjungan ini bertujuan untuk melihat secara langsung kondisi masjid yang bersejarah, dan melakukan pendataan agar situs itu akan terdokumentasi dengan baik oleh Kemenag,” jelas H.M Aqsho.

Dia juga menegaskan bahwa fungsi masjid yang tidak hanya untuk beribadah saja, apalagi masjid bersejarah didalamnya tentu sarat dengan nilai histori yang akan dapat berfungsi sebagai edukasi bagi umat Islam.

“ Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah umat Islam saja namun memiliki fungsi yang sangat luas, bahkan bagi Masjid yang bersejarah tentu sarat dengan histori yang dapat dijadikan sebagai edukasi bagi umat,”tegasnya.

* Kepala Kantor Kemenag Kab. Batang didampingi Kasi Bimas Islam sedang memberikan bingkisan pada takmir masjid An-Nur

Dalam kesempatan tersebut, takmir masjid An Nur di wakili oleh Bapak Maftukhin menceritakan sejarah berdirinya masjid An Nur desa Depok,

” Masjid An Nur dibangun pada tahun 1935 oleh K. H. Muhammad Nur bin Raden Surakarto ke 8, nama asli Muhammad Nur adalah Raden Sudibyo Mustoko  salah satu pejuang yang melarikan diri dari kejaran para penjajah yang sempat berkelana sampai ke wilayah Warungasem kemudian pindah ke kauman Batang, dan terakhir di wilayah pesisir utara ( Ds Depok ) dengan mengganti namanya menjadi Salamun untuk menghilangkan jejak, saat itu Depok dilanda keresahan banyaknya pencurian saat kepala Desanya Mbah Hasan. Kedatangan mbah salamun berhasil menangkap pencuri dan menjadikan desa aman, sebagia hadiah mbah salamun di angkat menjadi kepala Desa dan di bangunkan kantor Desa, namun mbah salamun meminta tambahan tanah untuk tempat ibadah, akhirnya 27 rajab 1928 dibangunlah sebuah tajuk ( Musholla ) dengan berjalannya waktu jamaah semakin banyak sehingga tajuk tidak mampu menampungnya sehingga berdasarkan kesepakan bersama warga pada tanggal 17 Ramadhan 1935 tajuk di renovasi menjadi masjid dengan nama masjid An Nur. Nama An Nur diambil dari nama pendirinya yaitu KH.Muhammad Nur, peninggalan sejarah yang masih tersimpan dengan baik sampai sekarang adalah tongkat dan pengidon ( tempat meludah ), “ cerita Maftukhin

Diakhir kunjungannya tim Kemenag menyerahkan kenang-kenangan berupa, buku-buku keagamaan, juz amma dan peraturan tata kelola menejemen masjid.( ida/zm/Zy )