Membentuk Pribadi Bertaqwa harus Ditanamkan Sikap Tawadhu, Qonaah, Wirai dan Yaqin

Temanggung- Rabu ( 5/7) diselenggarakan Halal bi Halal  dan perpisahan MI Al Ihsan Soborejo Pringsurat dengan undangan wali murid. Komite dan siswa yang telah lulus pada MI tersebut.

Dalam sambutannya Pengawas Kecamatan Pringsurat, Nur Makhsum menyampaikan  atas nama pribadi dan pimpinan beliau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1438 H, beliau juga meminta maaf kepada seluruh keluarga besar MI Al Ihsan Soborejo.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Panitia yang sudah bekerja keras dalam menyiapkan kegiatan ini sehingga berjalan sukses, kepada seluruh wali murid juga menyampaikan ucapan terima kasihnya yang telah mempercayai Madrasah sebagai tempat anak-anaknya untuk belajar dan kepada siswa-siswi  diharapkan terus bersemangat dalam menimba ilmu dan meraih mimpi dan cita-citanya. Nur Makhsum berpesan agar para lulusan MI Al Ihsan Soborejo dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan  berharap agar anak-anak yang pernah belajar di MI ini  sukses semua. “Sukses akademik maupun sukses religius,” ujarnya.

Pembentukan pribadi yang sesuai dengan nilai nilai ajaran Islam bagi anak didik tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala dan guru di Madrasah, tetapi juga menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat di lingkungan masing-masing. Hal itu disampaikan Nur Makhsun dihadapan wali murid dan komite MI Al Ihsan yang hadir pada acara halal bi halal dan perpisahan di halaman MI Al Ihsan Soborejo Pringsurat .

Dalam kesempatan tersebut sebagai pemberi taushiyah adalah bapak H.Thowaf Kasi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung. Thowaf menyampaikan bahwa untuk membentuk pribadi yang bertaqwa harus ditanamkan sikap tawadhu, qonaah, wirai dan yaqin.

Dijelaskan bahwa sikap merendah tanpa menghinakan diri merupakan sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya.  Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.

Tawadhu ”adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang.  Sedangkan Qana’ah artinya rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan. Qana’ah bukan berarti hidup bermalas-malasan, tidak mau berusaha sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Justru orang yang Qana’ah itu selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia akan tetap rela hati menerima hasil tersebut dengan rasa syukur kepada Allah SWT. Sikap yang demikian itu akan mendatangkan rasa tentram dalam hidup dan menjauhkan diri dari sifat serakah dan tamak, “ urainya.(sr/af)