Kabupaten Semarang (Humas) — Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Karbono, mendampingi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menghadiri Peringatan Hari Raya Asadha 2570 BE sekaligus launching karya seni Tanbo Art Pari Corek Sang Buddha di Coffee Shop Lodji Londo, Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Semarang, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang, tokoh agama, tokoh masyarakat, para seniman, serta lebih dari 500 tamu undangan. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, tokoh agama, dan komunitas seni dalam menghadirkan kegiatan keagamaan yang kreatif sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Peringatan Hari Raya Asadha menjadi momentum bagi umat Buddha untuk mengenang peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, khususnya saat Sang Buddha membabarkan Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal berputarnya Roda Dhamma atau Dhammacakka.
Dalam kesempatan tersebut, launching Pari Corek Sang Buddha menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian. Karya seni tersebut merupakan bagian dari seni Tanbo Art yang memanfaatkan area persawahan sebagai media untuk menghasilkan karya visual yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan spiritual.
Karya seni Pari Corek bergambar Sang Buddha yang berada di area persawahan Dusun Sidorejo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, mulai dikerjakan sejak 19 Juli 2026 oleh para seniman Tanbo Art Pari Corek Nusantara. Dengan memanfaatkan hamparan sawah sebagai kanvas alami, para seniman menghadirkan gambaran Sang Buddha melalui pola tanaman padi yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati dari sudut pandang tertentu.
Karya tersebut tidak hanya menjadi sebuah atraksi seni, tetapi juga membawa pesan mengenai keterhubungan antara kehidupan manusia, alam, budaya, dan nilai-nilai spiritual. Hamparan sawah yang selama ini dikenal sebagai ruang produksi pangan, melalui kreativitas para seniman dapat berubah menjadi ruang ekspresi yang menghadirkan keindahan dan pesan kehidupan.
”Kegiatan ini menunjukkan bahwa sawah bukan hanya tempat menghasilkan pangan, tetapi sawah juga dapat menjadi ruang untuk berkarya, bercerita, dan menghadirkan keindahan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Supriyadi menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas para seniman yang mampu menggabungkan seni, budaya, lingkungan, dan nilai-nilai keagamaan dalam sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat luas. Menurutnya, sawah bukan hanya menghasilkan padi, tapi dengan pengolahan imajinasi, pengolahan rasa, sawah bisa menghasilkan karya seni, sehingga sawah tidak hanya dimaknai tempat agribisnis tapi ternyata sawah bisa dijadikan tempat untuk menorehkan karya seni dan kalau diolah terus menerus maka tentu menjadikan daerah wisata.
Selain menjadi bagian dari peringatan Asadha, karya Pari Corek Sang Buddha diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi masyarakat Kabupaten Semarang dan sekitarnya. Kehadirannya juga diharapkan mampu membuka ruang interaksi antara umat Buddha dengan masyarakat luas melalui karya seni dan budaya.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kreativitas yang membangun. Seni, pertanian, budaya, dan spiritualitas dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ruang kebersamaan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui Peringatan Asadha 2570 BE dan launching Pari Corek Sang Buddha, diharapkan semangat membabarkan Dhamma tidak hanya hadir melalui kegiatan keagamaan secara konvensional, tetapi juga melalui karya kreatif yang mampu menyampaikan pesan kedamaian, keindahan, kebersamaan, dan harmoni kepada masyarakat luas.
Peringatan Hari Raya Asadha menjadi momentum bagi umat Buddha untuk mengenang peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, khususnya saat Sang Buddha membabarkan Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang pertapa di Taman Rusa Isipatana. Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal berputarnya Roda Dhamma atau Dhammacakka.
Dalam kesempatan tersebut, launching Pari Corek Sang Buddha menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang menarik perhatian. Karya seni tersebut merupakan bagian dari seni Tanbo Art yang memanfaatkan area persawahan sebagai media untuk menghasilkan karya visual yang memiliki nilai estetika sekaligus pesan spiritual.
Karya seni Pari Corek bergambar Sang Buddha yang berada di area persawahan Dusun Sidorejo, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, mulai dikerjakan sejak 19 Juli 2026 oleh para seniman Tanbo Art Pari Corek Nusantara. Dengan memanfaatkan hamparan sawah sebagai kanvas alami, para seniman menghadirkan gambaran Sang Buddha melalui pola tanaman padi yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat dinikmati dari sudut pandang tertentu.
Karya tersebut tidak hanya menjadi sebuah atraksi seni, tetapi juga membawa pesan mengenai keterhubungan antara kehidupan manusia, alam, budaya, dan nilai-nilai spiritual. Hamparan sawah yang selama ini dikenal sebagai ruang produksi pangan, melalui kreativitas para seniman dapat berubah menjadi ruang ekspresi yang menghadirkan keindahan dan pesan kehidupan.
”Kegiatan ini menunjukkan bahwa sawah bukan hanya tempat menghasilkan pangan, tetapi sawah juga dapat menjadi ruang untuk berkarya, bercerita, dan menghadirkan keindahan,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Supriyadi menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas para seniman yang mampu menggabungkan seni, budaya, lingkungan, dan nilai-nilai keagamaan dalam sebuah karya yang dapat dinikmati masyarakat luas. Menurutnya, sawah bukan hanya menghasilkan padi, tapi dengan pengolahan imajinasi, pengolahan rasa, sawah bisa menghasilkan karya seni, sehingga sawah tidak hanya dimaknai tempat agribisnis tapi ternyata sawah bisa dijadikan tempat untuk menorehkan karya seni dan kalau diolah terus menerus maka tentu menjadikan daerah wisata.
Selain menjadi bagian dari peringatan Asadha, karya Pari Corek Sang Buddha diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi masyarakat Kabupaten Semarang dan sekitarnya. Kehadirannya juga diharapkan mampu membuka ruang interaksi antara umat Buddha dengan masyarakat luas melalui karya seni dan budaya.
Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kreativitas yang membangun. Seni, pertanian, budaya, dan spiritualitas dapat berjalan beriringan untuk menciptakan ruang kebersamaan sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Melalui Peringatan Asadha 2570 BE dan launching Pari Corek Sang Buddha, diharapkan semangat membabarkan Dhamma tidak hanya hadir melalui kegiatan keagamaan secara konvensional, tetapi juga melalui karya kreatif yang mampu menyampaikan pesan kedamaian, keindahan, kebersamaan, dan harmoni kepada masyarakat luas.








