Ponpes pilihan dalam pendidikan akhlak generasi penerus

Karanganyar – Perubahan sosial budaya yang terjadi pada segala aspek kehidupan di lingkungan masyarakat belakangan ini menuntut lembaga pendidikan keagamaan Islam seperti pondok pesantren dan sejenisnya untuk segera berbenah. Merubah sistem atau pola pengajaran ke arah yang lebih baik adalah sebuah keniscayaan agar tetap bertahan dan eksis di tengah perkembangan zaman terkini.

Untuk mencapai tujuan mulia yang dicita-citakan, pada hari Kamis, 26/02/2015, seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Kementerian Agama mengundang pondok pesantren se Kabupaten Karanganyar untuk rapat koordinasi dalam rangka penguatan dan peningkatan kualitas ponpes. Sedikitnya ada 50 an Ustad/perwakilan ponpes hadir pada pertemuan yang berlangsung di aula kantor.

Menggantikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karanganyar yang berhalangan hadir, Kasubbag TU, Wiharso, memberikan sambutan sekaligus pengarahan pada rapat koordinasi tersebut. Orang nomor dua di lingkungan Kankemenag Kab. Karanganyar itu mengharapkan adanya koordinasi dan komunikasi yang baik antara pemerintah dan pondok pesantren.

“Mari bersama-sama kita tingkatkan koordinasi dan komunikasi diantara kita, agar pada setiap kegiatan kita terjadi sinergisitas antara program pemerintah dan pondok pesantren. Saya yakin di era sekarang ponpes tak bisa dipandang sebelah mata, karena terbukti banyak tokoh-tokoh penting Nasional yang lahir dari didikan pondok pesantren”, ucap Wiharso.

Pendidikan dan pola ajar yang baik sudah barang tentu akan menghasilkan anak didik yang berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan bahwa belum lama ini ada putra asli Kabupaten Karanganyar yang mampu menjuarai Qiro’atil Qutub tingkat Jawa Tengah dan peringkat dua se Indonesia.

“Kalau kita mau menggali potensi yang ada, sesungguhnya pondok pesantren yang ada di Kabupaten Karanganyar tidak kalah dengan pondok pesantren yang ada di luar Kabupaten Karanganyar. Maka untuk itu, inilah pentingnya berkoordinasi dan komunikasi yang baik diantara pondok pesantren dengan pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Agama”, lanjutnya.

Hal yang tidak kalah penting adalah tentang banyaknya muncul pemahaman-pemahaman yang tidak sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Menurut Wiharso, pondok pesantren memiliki peran strategis untuk mengcounter paham-paham yang tidak sesuai dengan yang sudah ada sekarang. Contohnya adalah berita tentang adanya selebaran Sholat tiga waktu yang berasal dari pondok pesantren di Jawa Timur.

Tren pendidikan saat ini sudah mulai berubah, dimana orang tua akan lebih senang menyekolahkan anaknya pada pendidikan yang bernuansa Islam, apalagi di pondok pesantren. Hal ini diutarakan Wiharso untuk memotivasi pondok pesantren meningkatkan kualitas pendidikan yang ada ditempatnya masing-masing.

“Kalau kita amati tren pendidikan, banyak orang tua yang paham akan situasi dan kondisi lebih tenang menyekolahkan anaknya di Pesantren. Hal ini tidak lepas dari pergaulan di luar yang sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan bagi mental dan akhlak anak-anaknya. Mari kita bersama-sama membenahi lembaga pendidikan kita agar masyarakat lebih tertarik dan lebih mempercayai keberadaan kita, sehingga kedepannya generasi muda kita dapat terselamatkan dari hal-hal yang buruk”, jelasnya.

Setelah sambutan dan pengarahan selesai, acara dilanjutkan dengan koordinasi membahas tentang program yang akan dilaksanakan oleh seksi PAKIS, yaitu kemah santri dan persiapan Musabaqah Qiroatil Kutub (MQK) tingkat Kabupaten Karanganyar. (Hadi)