Siswa Madrasah Kerjakan UTS di Masjid

Pekalongan – Para siswa sudah lama tidak melaksanakan KBM di ruangan kelas lantaran madrasah terendam banjir dan rob sejak sebulan terakhir.Setelah sebulan kegiatan belajar mengajar dipindahkan di masjid, kini puluhan siswa-siswi MIS Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, masih tetap harus menjalankan Ujian Tengah Semester (UTS) di dalam masjid.

Sementara, salah seorang siswa kelas 4, Arif Maulana (10), mengaku, terganggu saat belajar di masjid. Sebab, siswa kelas 1 hingga kelas 4 bercampur menjadi satu saat KBM berlangsung. “Selain tak ada sekat, di masjid juga tidak ada bangku dan mejanya. Jadi kesulitan saat menulis dan membaca. Pinginnya sih kalau bisa segera kembali ke kelas,” inginnya

Kepala MIS Tegaldowo, Nurhidayah, mengatakan, UTS terpaksa dilakukan di masjid setempat karena sejumlah ruang kelas MI Tegaldowo masih terendam air rob. Hanya dua ruangan yang baru bisa digunakan, sementara kondisi ruangan lain masih tidak memungkinkan untuk dilaksanakan UTS.

Akibatnya, pihak madrasah terpaksa menggunakan Masjid Al-Ikhlas Tegaldowo, untuk kegiatan pembelajaran siswa, dan kini masih dijadikan ruangan untuk UTS selama satu minggu kedepan. Setidaknya ada 70 siswa mengerjakan soal UTS di dalam masjid. Mereka adalah siswa kelas 1, 2, 3 dan 4 di madrasah tersebut.

UTS tersebut, lanjut dia, dilakukan Sabtu (12/03) hingga Kamis depan. Selain UTS, kegiatan belajar mengajar (KBM) juga terpaksa dilakukan di masjid setempat. “Sebab yang terdekat ya masjid ini. Yang ikut UTS kelas 1, 2, 3 dan 4,” jelasnya.

Memang, diakui, pelaksanaan UTS di masjid ini dikhawatirkan akan mengganggu fokus para siswa dalam mengerjakan soal-soal. Pasalnya, ruangan (masjid) ini tidak memiliki sekat pembatas antar kelas. Pembatas kelas hanya ditandai dengan karpet yang menjadi alas setiap kelas. “Tanggapan anak-anak ada yang cuek ada juga yang tanya ke saya, kapan bisa pindah ke ruang kelas lagi,” ungkapnya.

Kendati demikian, ia yakin para siswa tetap mengerjakan soal-soal UTS tersebut dengan baik dan jujur. Meski tanpa penyekat ruangan. Karena dalam setiap mata pelajaran, guru selalu menanamkan budaya jujur kepada anak didiknya.

“Contek-mencontek Insyaallah tidak ada. Sebab, kami sudah budayakan jujur dalam mengerjakan soal kepada anak-anak,” ujarnya. (hufron/gt).